Reporter: Vina Elvira | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Emiten perkebunan kelapa sawit, PT Cisadane Sawit Raya Tbk (CSRA) optimistis kinerja bisnis sepanjang 2026 masih akan bertumbuh dari tahun lalu. Optimisme tersebut ditopang peningkatan kapasitas produksi dan operasional pabrik kelapa sawit (PKS) ketiga yang mulai beroperasi sejak 2025.
Perusahaan ini menargetkan penjualan pada tahun ini dapat menembus Rp 2 triliun, lebih tinggi 5,87% dibandingkan realisasi tahun lalu yang sebesar Rp 1,88 triliun.
Direktur CSRA, Seman Sendjaja, mengungkapkan bahwa target penjualan tersebut melanjutkan tren pertumbuhan penjualan perusahaan dalam beberapa tahun terakhir. Di mana, nilai penjualan terus meningkat dari kisaran Rp 800 miliar hingga mencapai Rp 1,8 triliun pada 2025.
Baca Juga: Danantara Siapkan Dua Fase DSI untuk Awasi Harga Ekspor hingga Serap Devisa SDA
“Jadi dari tadi yang Rp 800 miliar, sampai Rp 900 miliar, sampai Rp 1 triliun, dan Rp 1,8 triliun tahun 2025, yang mudah-mudahan tahun ini bisa tercapai milestone yang baru, kami tembus sales Rp 2 triliun,” ungkap Seman, dalam Paparan Publik, Rabu (20/5/2026).
Seiring target kenaikan pendapatan tersebut, CSRA juga membidik pertumbuhan laba bersih. Pihaknya berharap bottom line dapat mencapai Rp 300 miliar sepanjang 2026, lebih tinggi dari Rp 272 miliar di tahun 2025.
Optimisme perusahaan tidak terlepas dari kontribusi PKS ketiga yang mulai beroperasi sejak tahun lalu.
Dengan tambahan kapasitas pengolahan tersebut, CSRA menargetkan peningkatan produksi tandan buah segar (TBS) dan volume olah sepanjang tahun ini.
Produksi TBS tahun ini ditargetkan mencapai 378.800 ton atau meningkat sekitar 7% dari tahun sebelumnya yang sebesar 354.290 ton.
Manajemen pun memperkirakan produksi semester II akan lebih tinggi dibanding semester I, seiring pola produksi sawit yang memasuki musim panen lebih optimal.
Selain fokus pada peningkatan produksi, CSRA juga tetap melanjutkan agenda ekspansi secara bertahap. Tahun ini perseroan mengalokasikan belanja modal atau capital expenditure (capex) sekitar Rp 100 miliar.
Baca Juga: Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) Dibentuk Agar Devisa Tak Parkir di Luar Negeri
Belanja modal tersebut termasuk untuk mendukung pengembangan landbank sebesar 3.700 ha, yang saat ini masih berjalan.
“Angka ini tentu akan bergerak, kalau cash flow kami agak menurun atau bagaimana, ya mungkin kami adjust lagi capex ini,” paparnya.
CSRA menegaskan strategi pertumbuhan yang dijalankan selama ini dilakukan secara konservatif dan mengandalkan organic growth. Manajemen mengaku tidak agresif melakukan akuisisi perusahaan sawit yang sudah beroperasi.
Menurutnya, strategi ekspansi yang lebih konservatif menjadi salah satu faktor yang membuat perusahaan mampu bertahan hingga lebih dari empat dekade.
Per kuartal I-2026, CSRA tercatat membukukan penjualan sebesar Rp 541 miliar, lebih tinggi 96% yoy. Sementara untuk laba bersih, perusahaan mencetak Rp 84 miliar, naik 6% dari posisi yang sama tahun sebelumnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













