kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.799.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.859   -41,00   -0,23%
  • IDX 6.127   -2,81   -0,05%
  • KOMPAS100 807   -1,47   -0,18%
  • LQ45 611   -9,23   -1,49%
  • ISSI 216   0,35   0,16%
  • IDX30 348   -6,56   -1,85%
  • IDXHIDIV20 426   -11,92   -2,72%
  • IDX80 93   -0,89   -0,95%
  • IDXV30 118   -2,46   -2,04%
  • IDXQ30 112   -2,96   -2,59%

Cuaca ekstrem berlanjut, produksi karet bisa terpangkas hingga 4%


Minggu, 17 April 2011 / 18:39 WIB
ILUSTRASI. BI belum melihat kemungkinan resesi ekonomi Indonesia meski pertumbuhan kuartal II-2020 akan melambat.


Reporter: Herlina KD |

JAKARTA. Perubahan iklim yang terjadi sejak tahun lalu mengakibatkan produksi beberapa komoditi pertanian menjadi terganggu. Sebab, cuaca dan iklim sangat berpengaruh pada produksi pertanian. Salah satu komoditi pertanian yang tahun ini masih akan terganggu adalah karet alam.

Ketua Umum Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Asril Sutan Amir mengatakan tahun ini produksi karet alam Indonesia dipatok sebesar 2,97 juta ton, naik ketimbang produksi tahun 2010 yang sebesar 2,73 juta ton. Tapi, "Anomali iklim yang masih terjadi saat ini bisa menurunkan produksi sekitar 3% - 4% dari target," ujarnya akhir pekan lalu.

Ia menambahkan, faktor anomali iklim bisa menghambat kenaikan produksi karet alam. Selain itu, tingkat produktivitas tanaman karet di Indonesia masih sangat rendah yaitu rata-rata sekitar 880 kg per hektare per tahun. Jumlah ini lebih rendah ketimbang produktivitas tanaman karet di negara lain seperti Thailand dan India yang bisa mencapai 1.500 kg per hektare per tahun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×