kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   -20.000   -0,70%
  • USD/IDR 17.500   -30,00   -0,17%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Dahlan Iskan ajak petani revolusi


Kamis, 29 Maret 2012 / 10:54 WIB
ILUSTRASI.


Reporter: Asnil Bambani Amri | Editor: Asnil Amri

YOGYAKARTA. Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Dahlan Iskan, mengajak petani di Indonesia melakukan revolusi dalam hal ketersedian pangan. Melalui program Kementerian BUMN yakni program pro beras BUMN diharapkan ketahanan dan kersediaan makan selalu tercukupi.

"Saya mengharapkan suatu revolusi yang mendasar untuk mengatasi ketersedian pangan, khusus beras," kata Dahlan Iskan, Kamis (29/3).

Ia mencontohkan, desa terpencil di Xiao Gang, berhasil menjadi inspirasi pejabat Tiongkok dalam revolusi pertanian. Karena, desa kecil itu mampu meningkatkan produksi berasnya. Menurut Dahlan, desa terpecil Xiao Gang di China itu mirip dengan Triharjo, Kulon Progo.

Untuk meningkatan produktitas padi tanpa ada perintah atau tekanan dari pemerintah, namun atas kesadaran sendiri dan dilakukan secara mandiri. "Kelompok tani di Xiao Gang, awalnya nggak berani terang-terangan. Petani rapat gelap yang sangat rahasia, karena taruhanya mati. Kami berharap, petani Triharjo sama seperti Xiao Gang," pinta Dahlan.

Ia mengatakan, Kementerian BUMN melalui PT Sang Hyang Sri memberikan sewa tanah, biaya pengelolaan dan pemberian pupuk serta benih. "Selain itu, kalau hasilnya lebih boleh diambil petani. Karena, PT SHS hanya mentargetkan per hektarenya 5,5 ton. Selebihnya, kalau terjadi surplus produksi menjadi hak petani," ungkap Dahlan.

Sementara, Direktur Utama PT Sang Yang Sri, Eddy Budiono, mengatakan, untuk mendukung Program Kementerian BUMN, PT SHS memberikan uang kepada petani. "Setiap hektarnya mendapat ganti rugi antara Rp 5 juta hingga Rp 15 juta," kata Eddy.(Sutarmi|Glori K. Wadrianto/Kompas.com)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×