Reporter: Fahriyadi | Editor: Fahriyadi .
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Setelah menjadi salah satu rimpang yang paling diandalkan dan dicari selama masa pandemi Covid-19, kini jahe merah kembali naik popularitasnya di dunia pengobatan alami. Rempah asli Nusantara ini telah lama dikenal dalam pengobatan tradisional untuk menjaga daya tahan tubuh, menghangatkan badan, hingga meredakan berbagai keluhan kesehatan ringan, termasuk gejala masuk angin.
Di balik popularitas jahe merah, terdapat satu varietas unggulan yang kini mulai menarik perhatian akademisi, petani, maupun industri herbal nasional: Jahira. Kehadirannya menjadi jawaban strategis bagi tuntutan pasar modern yang menginginkan solusi herbal untuk kesehatan dan kebugaran tubuh.
Kepala BRMP TROA Kementerian Pertanian (Kementan), Prima Luna di bidang Food and Nutritional Sciences mengungkapkan bahwa kualitas jahe merah yang beredar di masyarakat sebenarnya tidak sama.
Baca Juga: Kimia Farma Genjot Bahan Baku Obat Lokal, Ketergantungan Impor Masih Tembus 95%
"Tanaman obat seperti jahe merah harus memiliki informasi lengkap mengenai asal benih dan jenisnya, karena hal ini pasti akan memengaruhi kandungan komponen aktif hingga morfologi tanamannya," ujarnya, Senin (29/6/2026).
Varietas Zingiber officinale var. rubrum klon Jahira ini merupakan hasil pemuliaan nasional yang dirancang khusus untuk memenuhi standarisasi industri. Penelitian menunjukkan bahwa Jahira memiliki kadar gingerol, dan shogaol yang jauh lebih tinggi dari jahe merah biasa, menjadikannya agen antiinflamasi, antioksidan, dan peningkat imunitas yang superior.
Jembatan tradisi dan sains global
Indonesia telah lama dikenal sebagai salah satu episentrum megabiodiversitas dunia yang menyimpan kekayaan herbal melimpah. Sayangnya, potensi masif ini kerap berhenti pada tataran tradisi lokal tanpa berhasil dikonversikan menjadi identitas nasional di panggung internasional. Industri kesehatan global saat ini tengah bergerak ke arah paradigma preventif, di mana konsumen dunia aktif mencari bahan alami berkualitas tinggi. Realitas ini menuntut adanya standarisasi ilmiah agar warisan leluhur tidak hanya dipandang sebelah mata sebagai pengobatan alternatif tanpa basis data terukur.
Kehadiran varietas Jahira memecah kebuntuan tersebut. Resmi diperkenalkan Kementerian Pertanian, Jahira dirancang khusus sebagai varietas unggulan yang menjawab kebutuhan standarisasi industri modern.
Melalui riset agronomis ketat dan pemuliaan terukur, varietas ini membuktikan bahwa inovasi berbasis sumber daya lokal mampu menjadi jembatan solid antara kearifan tradisional, pembuktian ilmiah, serta pengembangan ekonomi berkelanjutan
Sebagai komoditas premium, keunggulan utama Jahira terletak pada konsistensi kualitas rimpang, produktivitas tinggi, serta profil senyawa bioaktifnya yang superior. Berbeda dari jahe merah biasa yang beredar di pasar tradisional dengan tingkat kestabilan zat aktif fluktuatif, klon Jahira menawarkan keunggulan fungsional yang dapat dipertanggungjawabkan secara klinis. Kandungan flavonoid serta kapasitas antioksidannya tercatat jauh lebih tinggi. Senyawa aktif utama seperti gingerol, shogaol, paradol, dan zingerone bekerja secara sinergis melindungi sel tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas.
"Keunggulan Jahira 2 secara spesifik terletak pada tingkat kadar gingerolnya yang sangat tinggi. Komponen aktif ini sangat baik dan efektif untuk meningkatkan daya tahan tubuh serta memberikan efek termogenik atau rasa hangat yang konsisten bagi tubuh, sehingga baik digunakan untuk melegakan gejala masuk angin," papar Prima.
Berbagai riset juga mengonfirmasi adanya aktivitas antimikroba alami dalam rimpang ini. Tingginya densitas senyawa bioaktif yang konsisten ini menjadikan klon Jahira sangat potensial untuk diadopsi sebagai bahan baku utama dalam ekosistem produk herbal modern. Dalam hal riset berbagai kekayaan herbal di Indonesia, salah satunya adalah BRMP TROA (Balai Perakitan dan Pengujian Tanaman Rempah, Obat, dan Aromatik).
"Kami punya banyak layanan, ada layanan pengujian, layanan kunjungan jadi punya petak pamer kalau mau melihat lebih dekat dengan tanaman obat yang tadi saya sebutkan 400 jenis, juga ada layanan kerjasama dan layanan perakitan," ujar Prima Luna menceritakan mengenai BRMP TROA.
Sebagai pusat riset dan pengembangan, BRMP TROA membuka pintu selebar-lebarnya bagi seluruh lapisan masyarakat untuk berkolaborasi dan memanfaatkan fasilitas yang ada. Masyarakat dapat memanfaatkan layanan pengujian kandungan tanaman, melakukan kerja sama riset, hingga mengunjungi petak pamer balai secara langsung untuk mengedukasi diri mengenai ratusan jenis tanaman obat yang dikoleksi di sana. Selain itu, BRMP TROA juga aktif mendukung sektor pendidikan dengan kolaborasi bagi kalangan akademis dan program magang untuk mahasiswa.
Urgensi hilirisasi
Di kalangan akademisi dan pelaku industri, muncul sebuah pertanyaan: apakah Jahira memerlukan perhatian intensif dari industri farmasi untuk dijadikan kandungan obat herbal fungsional di Indonesia? Jawabannya tidak sekadar berputar pada aspek kesehatan, melainkan menyentuh kedaulatan industri nasional.
Selama ini, industri farmasi dalam negeri masih memiliki ketergantungan tinggi terhadap bahan baku impor. Melalui proses hilirisasi yang tepat, Jahira dapat ditransformasikan dari sekadar komoditas pertanian mentah menjadi produk bernilai tambah tinggi yang lolos uji klinis.
Relevansi Jahira menjadi sangat krusial di kala industri manufaktur obat terus dituntut mencari bahan baku lokal yang berkualitas, konsisten, dan
berkelanjutan (sustainable). Mengintegrasikan Jahira ke dalam lini produksi farmasi nasional akan memperkuat kemandirian industri herbal dan biofarmaka berbasis kekayaan hayati asli Indonesia.
Sebagai The Pride of Indonesia atau kebanggan Indonesia, Jahira memiliki peluang besar dalam langkah strategis diplomasi global. Komoditas premium ini siap diintegrasikan untuk memperkenalkan sekaligus mengukuhkan kekayaan alam Nusantara di mata internasional.
Jahira adalah simbol transisi sempurna yang mengemas nilai sejarah pengobatan tradisional ke dalam era riset medis modern dengan efektivitas tinggi yang konsisten. Identitas murni "asli Indonesia" yang melekat kuat menjadi modal utama untuk melakukan penetrasi di pasar domestik maupun ekspor global.
"Kami di BRMP TROA sangat bangga jika ada pihak perusahaan atau industri yang mau bergerak memanfaatkan hasil inovasi ini. Jahira merupakan jahe merah unggul Indonesia, dan jalinan kerja sama serta pemanfaatan oleh sektor industri akan menjadi langkah yang sangat luar biasa dalam mengangkat inovasi kekayaan hayati lokal kita ke tingkat dunia," tambah Prima Luna.
Melalui sinergi dengan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif, Jahira dapat dijadikan produk unggulan yang ditampilkan langsung kepada wisatawan mancanegara sebagai representasi budaya sehat Nusantara.
“Jika Korea Selatan sukses menduniakan slogan "Korea Negeri Ginseng", maka Indonesia harus berani mengampanyekan narasi besar: "Indonesia, Rumah Jahira". Melalui langkah ini, mengonsumsi produk berbasis Jahira bukan lagi sekadar upaya menjaga imunitas tubuh, melainkan sebuah gerakan kultural mendukung komoditas lokal naik kelas di kancah dunia,” ujar Prima.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














