Reporter: Vina Elvira | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Garudafood Putra Putri Jaya Tbk (GOOD) menargetkan pertumbuhan pendapatan dan laba pada level dobel digit di sepanjang 2026.
Target ini mencerminkan optimisme perusahaan terhadap keberlanjutan kinerja usaha di tengah prospek konsumsi domestik yang tetap kuat.
Direktur Garudafood Putra Putri Jaya, Fransiskus Johny Soegiarto mengatakan, target pertumbuhan dobel digit tersebut bukan sekadar angka, melainkan cerminan dari strategi bisnis yang telah dijalankan dan akan terus diperkuat tahun ini.
Baca Juga: Fintech Lending 2026: Proyeksi Tumbuh Dobel Digit, Peluang Besar?
“Target dobel digit ini bukan sekadar angka, tetapi merupakan cerminan dari strategi yang sudah kami jalankan dan akan terus kami perkuat di 2026,” ungkap Fransiskus, belum lama ini.
Untuk mencapai target tersebut, Garudafood menyiapkan sejumlah prioritas strategi.
Pertama, mengakselerasi inovasi produk melalui pengembangan portofolio yang selaras dengan tren dan kebutuhan konsumen.
Langkah ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan berbagai channel penjualan yang terus berkembang, baik di kantin sekolah maupun modern trade.
Kedua, memperkuat distribusi dan akses pasar melalui perluasan jangkauan hingga retail terkecil. Strategi ini bertujuan meningkatkan coverage distribusi agar semakin dekat dengan konsumen akhir.
Ketiga, GOOD memperkuat sinergi melalui kemitraan strategis dengan mitra global.
Baca Juga: Premi Asuransi Energi Tumbuh Dobel Digit, AAUI Nilai Transisi EBT Jadi Peluang Besar
Kolaborasi ini dinilai penting untuk memperkuat kapabilitas perusahaan sekaligus menangkap tren global yang dapat diadaptasi ke pasar domestik maupun internasional.
Keempat, perusahaan terus mengoptimalkan teknologi dan digitalisasi dengan mengintegrasikan proses bisnis secara end to end.
Kelima, Garudafood menerapkan sistem jaminan mutu secara menyeluruh, mulai dari standar material, proses produksi, pengendalian kualitas, hingga distribusi agar keamanan pangan tetap terjaga sampai ke tangan pelanggan.
“Komitmen kami adalah menjaga keamanan pangan secara utuh sampai produk diterima customer,” jelasnya.
Selain itu, perusahaan juga mendorong integrasi keberlanjutan dalam operasional bisnis dengan memanfaatkan digitalisasi dan kecerdasan buatan (AI) untuk membaca tren pasar sekaligus mengoptimalkan pengelolaan database perusahaan.
Tekanan Harga Plastik dan Raw Material Jadi Perhatian
Di sisi lain, GOOD juga menghadapi tekanan dari kenaikan harga bahan baku dan material kemasan, khususnya plastik.
Ia mengakui, kenaikan harga kemasan plastik saat ini memberikan tekanan terhadap beban operasional perusahaan.
"Estimasi internal perusahaan menunjukkan bahwa kenaikan harga ini bervatiatif, mulai dari 10%-70%. Dan akan berdampak terhadap gross profit sekitar 1% sampai 4%,” ungkapnya.
Manajemen terus melakukan mitigasi agar dampaknya terhadap margin tetap terjaga. Langkah pertama dilakukan melalui efisiensi operasional internal untuk memperbaiki struktur biaya dan menjaga pengendalian cost.
Baca Juga: MUF Catatkan Penyaluran Pembiayaan Kendaraan Listrik Tumbuh Dobel Digit pada 2025
Kedua, perusahaan melakukan diversifikasi pemasok dan substitusi material packaging.
Menurutnya, tekanan terbesar saat ini terjadi pada bahan berbasis polypropylene (PP), sementara polyester relatif lebih stabil, karena itu, perusahaan terus mencari alternatif material yang tetap optimal bagi konsumen namun lebih efisien secara biaya.
Ketiga, GOOD juga membuka peluang sourcing bahan baku dari negara tetangga karena pasokan lokal dinilai terbatas.
Salah satu pemasok utama film dan plastik berasal dari China, meski impor dari negara tersebut juga menghadapi tantangan seperti bea masuk dan kebijakan dumping.
“Hal ini akan kami kelola sebaik-baiknya supaya kami tetap bisa mempertahankan stabilitas harga produk yang sesuai dengan daya beli konsumen,” jelas Johny.
Selain plastik, kenaikan harga bahan baku dairy dan kacang juga menjadi perhatian. GOOD telah melakukan penyesuaian harga pada beberapa produk secara bertahap.
Baca Juga: Strategi ASLC Tetap Tumbuh Dobel Digit Usai Pendapatan Tembus Rp 1 Triliun di 2025
Seperti pada lini dairy product misalnya, harga telah dinaikkan sekitar 5% seiring kenaikan harga raw material dari pemasok.
Sementara untuk produk berbasis kacang, penyesuaian harga juga akan dilakukan secara bertahap mulai Mei hingga Juni 2026 dengan tetap mempertimbangkan daya saing di pasar.
“Penyesuaian harga jual adalah opsi yang selalu kami pertimbangkan secara hati-hati, dengan tetap menjaga kualitas produk dan daya saing di pasar,” tutupnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













