kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.663.000   -6.000   -0,22%
  • USD/IDR 16.917   7,00   0,04%
  • IDX 9.075   42,82   0,47%
  • KOMPAS100 1.256   8,05   0,64%
  • LQ45 889   7,35   0,83%
  • ISSI 330   0,23   0,07%
  • IDX30 452   3,62   0,81%
  • IDXHIDIV20 533   4,12   0,78%
  • IDX80 140   0,85   0,61%
  • IDXV30 147   0,15   0,10%
  • IDXQ30 145   1,19   0,83%

GKSI: Program MBG Jadi Momentum Dongkrak Serapan Susu Lokal


Selasa, 14 Oktober 2025 / 19:43 WIB
GKSI: Program MBG Jadi Momentum Dongkrak Serapan Susu Lokal
ILUSTRASI. Pekerja menyelesaikan pengemasan produksi susu di Unit Produksi Koperasi Produsen Peternakan Bandung Selatan (KPBS) Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Kamis (2/10/2025). ANTARA FOTO/Novrian Arbi/nym. Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI) menilai, program MBG jadi momentum penting untuk meningkatkan penyerapan susu segar dalam negeri.


Reporter: Shintia Rahma Islamiati | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI) menilai, program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tengah digencarkan pemerintah menjadi momentum penting untuk meningkatkan penyerapan susu segar dalam negeri.

Direktur GKSI, Yusup Munawar, menyebut program ini membuka peluang besar bagi peternak dan koperasi untuk memperluas kemitraan dengan industri pengolahan susu (IPS).

“Program MBG memberikan dampak positif terhadap peningkatan permintaan susu segar nasional. Ini kesempatan bagi peternak dan koperasi untuk memperluas penyerapan susu segar dalam negeri (SSDN),” ujar Yusup kepada Kontan, Selasa (14/10/2025).

Baca Juga: Upaya Memperkuat Akses Permodalan UMKM di Papua Lewat Ekosistem KUR

Menurutnya, GKSI berkomitmen mendukung penuh penyediaan susu segar untuk kebutuhan program tersebut. Selain memperkuat ketahanan pangan, program ini juga diharapkan menjadi pengungkit bagi peningkatan produksi serta kesejahteraan peternak lokal.

Yusup menilai bahwa keberhasilan program MBG tidak hanya bergantung pada permintaan, tetapi juga pada kesiapan pasokan dari hulu. 

Karena itu, GKSI menekankan pentingnya peningkatan produktivitas dan perluasan populasi sapi perah di tingkat koperasi agar mampu memenuhi kebutuhan secara berkelanjutan.

Yusup menyebut, produksi susu nasional menunjukkan tren stabil dengan sedikit peningkatan hingga Kuartal III-2025 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. 

“Peningkatan ini utamanya berasal dari sapi perah impor yang mulai berproduksi serta penerapan manajemen pemeliharaan yang lebih baik di tingkat peternak dan koperasi,” kata Yusup.

Meskipun belum signifikan, menurutnya tren ini mencerminkan arah positif menuju penguatan kapasitas produksi susu segar dalam negeri.

Baca Juga: Keseimbangan Primer Masih Catatkan Surplus, Ekonom: Penyerapan Belanja Lambat

Selanjutnya: Harga Emas Tinggi, Pembiayaan Gadai Emas Pergadaian Naik 33,43% per Agustus 2025

Menarik Dibaca: Sentimen Positif Pasar Kripto di Tengah Tekanan Penambahan Tarif Impor AS ke China

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×