Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Ridwan Mulyana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Haloni Jane Tbk (HALO) melanjutkan upaya meningkatkan kontribusi pendapatan dari pasar ekspor. HALO memperluas jangkauan pasar di wilayah Amerika Latin dan Eropa dengan mengekspor sarung tangan karet medis ke Brazil dan Austria.
Sekretaris Perusahaan Haloni Jane, Yakub Indra Kusuma mengungkapkan bahwa HALO telah mengirim sebanyak 4.500 karton atau 4,5 juta pieces ke Brazil, dan 3.250 karton atau 3,25 juta pieces sarung tangan karet medis ke Austria. Pengiriman kontainer untuk ekspor tersebut telah berlangsung pada Jumat (28/8/2026) di fasilitas produksi Cikupa, Tangerang.
"HALO menargetkan untuk terus melakukan ekspansi ke negara-negara Amerika Latin dan Eropa. Bagi HALO, ekspansi ke kawasan tersebut berpotensi membuka akses terhadap pasar yang lebih luas dan terdiversifikasi," kata Yakub kepada Kontan.co.id, Kamis (3/9/2026).
Amerika Latin dapat menjadi sumber pertumbuhan baru bagi produk yang memiliki daya saing dari sisi kualitas dan harga, sementara penetrasi ke Eropa berpotensi meningkatkan skala pasar sekaligus memperkuat kredibilitas produk HALO di tingkat internasional. "Ekspansi tersebut diharapkan dapat meningkatkan kontribusi penjualan ekspor dan menciptakan sumber pertumbuhan jangka panjang yang lebih beragam," imbuh Yakub.
HALO mengantongi penjualan sebesar Rp 94,31 miliar pada semester I-2026. Penjualan dari pasar ekspor berkontribusi sebesar Rp 40,38 miliar atau setara dengan 42,81% dari total pendapatan. Penjualan ekspor HALO pada paruh pertama 2026 tumbuh 1,17% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 39,91 miliar.
Kontribusi ekspor meningkat pada saat terjadi penurunan penjualan di pasar lokal. Penjualan HALO di dalam negeri menyusut 10,93% secara tahunan atau year on year (yoy) dari Rp 60,54 miliar menjadi Rp 53,92 miliar pada semester I-2026.
Yakub mengatakan bahwa perluasan pasar ekspor menjadi salah satu strategi HALO untuk menjaga kinerja di tengah pelemahan penjualan di pasar domestik. Salah satu strategi HALO untuk membuka akses pasar adalah dengan mengikuti berbagai pameran dan forum bisnis di luar negeri.
"Pada tahun ini HALO telah mengikuti Africa Health ExCon di Kairo sebagai bagian dari Indonesian Pavilion, Medical Chennai, Indonesia – Europe Business Forum dan yang akan datang diantaranya akan bergabung pada Business Forum INALAC di Chili," ungkap Yakub.
Dia menjelaskan, kontribusi dari penjualan ekspor menunjukkan tren kenaikan yang solid sejak tahun 2023. Kala itu, penjualan ekspor HALO hanya mencapai Rp 35,86 miliar. Nilai ekspor HALO naik menjadi Rp 40,99 miliar pada 2024 dan melonjak ke posisi Rp 86,40 miliar pada 2025.
Sementara itu, data Trailing Twelve Months (TTM) hingga Juni 2026 menunjukkan penjualan ekspor HALO mencapai sekitar Rp 86,87 miliar. Jika dibandingkan dengan raihan tahun 2023, nilai ekspor TTM Juni 2026 mengalami lonjakan sekitar 142%.
Pada sisi yang lain, penjualan di pasar domestik sedang melandai. Menurun dari Rp 131,10 miliar pada tahun 2025 menjadi Rp 124,48 miliar pada TTM Juni 2026. Data tersebut mengindikasikan bahwa ekspor berperan sebagai penyangga kinerja HALO ketika permintaan domestik mengalami tekanan.
"Perkembangan tersebut memberikan indikasi bahwa pertumbuhan ekspor bukan hanya fenomena satu periode, melainkan bagian dari strategi Perseroan untuk memperluas pasar global," ujar Yakub.
Yakub menambahkan, strategi HALO memperluas pasar ekspor mendapat perhatian dari Pemerintah. Sejumlah perwakilan dari pemerintah turut hadir dalam acara pelepasan kontainer ekspor sarung tangan karet medis HALO ke Brazil dan Austria pada Jumat (28/8/2026).
Direktur Pengembangan Ekspor Produk Manufaktur Kementerian Perdagangan, Deden Muhammad Fajar Shiddiq, menyampaikan bahwa pelepasan ekspor sarung tangan karet HALO ke kawasan Eropa dan Amerika Latin menunjukkan produk manufaktur alat kesehatan Indonesia memiliki daya saing di pasar global. "Kami berkomitmen terus membuka akses pasar baru agar kapasitas produksi Haloni Jane dapat terserap optimal di pasar internasional," ujarnya.
Direktur Ketahanan Farmasi dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan, Wenny Indriasari turut menyambut langkah ekspansi pasar ekspor HALO. "Haloni Jane menjadi contoh bagaimana ketahanan dan kemandirian kesehatan diwujudkan melalui pembangunan rantai pasok end-to-end, di mana produksi sarung tangan bedah diolah langsung dari sumber daya karet alam nasional hingga menghasilkan produk akhir berstandar global," ungkapnya.
Target Pertumbuhan Laba
Dari sisi kinerja keuangan, meski penjualan ekspor menunjukkan tren yang mendaki, tapi mayoritas pendapatan HALO masih berasal dari pasar domestik dengan kontribusi sebesar 57,17% pada semester I-2026. Sejalan dengan penurunan penjualan di pasar lokal, total penjualan HALO menyusut 6,11% (yoy) dari Rp 100,45 miliar menjadi Rp 94,31 miliar hingga Juni 2026.
Meski begitu, HALO mampu menekan beban pokok penjualan sebanyak 15,08% (yoy) dari Rp 88,95 miliar menjadi Rp 75,53 miliar. Hasil ini membuat perolehan laba bruto HALO melonjak sebanyak 63,21% (yoy) dari Rp 11,50 miliar menjadi Rp 18,77 miliar.
"Pencapaian ini didorong oleh keberhasilan perusahaan dalam melakukan efisiensi biaya yang secara signifikan mendongkrak margin dan profitabilitas perusahaan," ungkap Yakub.
HALO pun membukukan laba periode berjalan sebesar Rp 9,36 miliar pada semester I-2026. Perolehan laba HALO melejit 156,43% dibandingkan raihan Rp 3,65 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Apabila capaian tersebut dianualisasikan, Yakub mengungkapkan bahwa laba HALO berpotensi menembus Rp 18,72 miliar hingga akhir tahun 2026. Estimasi tersebut melampaui target Manajemen HALO yang memproyeksikan laba bersih sebesar Rp 14 miliar.
"Dengan momentum efisiensi operasional yang kuat, Perusahaan berada dalam posisi yang solid untuk melampaui target pertumbuhan laba bersih 30,3% yang dicanangkan manajemen untuk tahun 2026. Mencerminkan keberhasilan strategi cost optimization perusahaan dalam memperkuat fondasi keuangan jangka panjang," tandas Yakub.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














