kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.850.000   19.000   0,67%
  • USD/IDR 17.099   75,00   0,44%
  • IDX 6.961   -28,56   -0,41%
  • KOMPAS100 956   -8,97   -0,93%
  • LQ45 700   -7,49   -1,06%
  • ISSI 249   -0,35   -0,14%
  • IDX30 381   -6,78   -1,75%
  • IDXHIDIV20 472   -9,83   -2,04%
  • IDX80 108   -0,98   -0,90%
  • IDXV30 130   -2,17   -1,64%
  • IDXQ30 124   -2,36   -1,87%

Harga Energi Fosil Mahal, Minat Pemanfaatan Panel Surya Diproyeksi Meningkat


Selasa, 07 April 2026 / 12:18 WIB
Harga Energi Fosil Mahal, Minat Pemanfaatan Panel Surya Diproyeksi Meningkat
ILUSTRASI. Kenaikan harga energi fosil akan menjadi katalis untuk mendorong masyarakat maupun industri beralih ke Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Arif Ferdianto | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tren pemanfaatan energi surya di Indonesia terus menunjukkan grafik peningkatan dalam dua tahun terakhir. Institute for Essential Services Reform (IESR) menilai, kenaikan harga energi fosil akan menjadi katalis untuk mendorong masyarakat maupun industri beralih ke Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).

Chief Executive Officer (CEO) IESR, Fabby Tumiwa mengatakan, minat pelaku bisnis untuk menggunakan listrik bersih semakin tinggi. Hal ini juga didukung oleh kepastian regulasi melalui Peraturan Menteri ESDM Nomor 2 Tahun 2024, meskipun implementasi PLTS atap dinilai belum optimal dibandingkan potensinya.

"Saya juga melihat minat dari bisnis industri untuk memanfaatkan pembangkit listrik tenaga surya untuk menghasilkan listrik yang bersih itu semakin tinggi," ujarnya saat dihubungi Kontan.co.id, Selasa (7/4/2026).

Baca Juga: APKI Dorong Konsolidasi Industri untuk Perkuat Daya Saing Sektor Pulp dan Kertas

Fabby mengungkapkan, fenomena cuaca seperti El Nino tidak berpengaruh langsung terhadap minat masyarakat terhadap teknologi ini. Menurutnya, faktor ekonomi berupa tingginya harga komoditas energi fosil seperti gas, batubara, dan minyak justru lebih menentukan arah pasar.

"Menurut saya justru yang akan meningkatkan minat untuk pemanfaatan energi surya itu kalau harga energinya mahal. Misalnya karena harga energi fosil mahal, seperti kita lihat misalnya ini ada naik harga gas, batubara, minyak naik. Nah itu mungkin yang pengguna listrik yang menggunakan PLTD itu karena sekarang dengan harga dieselnya naik, bisa jadi mereka berpindah ke PLTS," ungkapnya.

Dari sisi harga instalasi, Fabby memproyeksikan harga panel surya cenderung konsisten atau setidaknya stabil. Menurutnya, meski ada kenaikan biaya logistik, melimpahnya kapasitas produksi global, terutama dari China, menjaga pasokan tetap aman sehingga tidak terjadi kelangkaan.

"Kalau kita bilang PLTS atap hari ini ya untuk PLTS-nya saja mungkin kisaran harganya Rp 12-15 juta per kilowatt, itu sudah terpasang ya per kilowatt tapi minimum 2 kilowatt," tambahnya.

Baca Juga: Elnusa (ELSA) Bidik Efisiensi Operasional Hingga 25% pada 2026

Sementara untuk proyek skala besar atau utility scale yang dikerjakan oleh PLN, perhitungannya berada di kisaran US$ 500 hingga US$ 700 per kilowatt. Fabby mencatat, meski proyek skala besar milik PLN cenderung tertunda sejak tahun lalu, namun secara keseluruhan bisnis ini akan tetap bertumbuh.

Lebih lanjut, Fabby menambahkan, prospek bisnis panel surya tahun ini akan terus mendaki, apalagi dengan adanya komitmen besar dari pemerintah. 

"Saya kira sih akan naik ya apalagi kalau kita lihat pemerintah kan mendorong pemanfaatan energi surya dengan Presiden mencanangkan program 100 gigawatt," pungkasnya.

Untuk diketahui, berdasarkan data Kementerian ESDM, realisasi penambahan kapasitas terpasang PLTS (termasuk PLTS terapung dan PLTS atap) hingga Juni tahun 2025 mencapai 233,26 MW, sehingga total kapasitas terpasang PLTS secara kumulatif menjadi sebesar 1.142,69 MW.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×