kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.553   53,00   0,30%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Harga Keekonomian Melambung, Pemerintah Pertimbangkan Aspek Migrasi Konsumsi BBM


Minggu, 10 Mei 2026 / 15:02 WIB
Harga Keekonomian Melambung, Pemerintah Pertimbangkan Aspek Migrasi Konsumsi BBM
ILUSTRASI. Antrean BBM di sejumlah SPBU di Palangka Raya (ANTARA FOTO/AULIYA RAHMAN)


Reporter: Arif Ferdianto | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Selisih antara harga jual eceran dengan harga keekonomian Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi maupun penugasan terpantau semakin melebar.

Kondisi ini dipicu oleh pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh level Rp 17.300 per dolar AS serta fluktuasi harga minyak mentah dunia.

Anggota Dewan Energi Nasional (DEN), Saleh Abdurrahman mengakui bahwa situasi saat ini tidak mudah bagi penentuan harga BBM di dalam negeri. 

Asal tahu saja, harga keekonomian Pertalite kini berada di level Rp 16.088 per liter dan dijual Rp 10.000 per liter, sementara Pertamax yang dijual Rp 12.300 per liter ditaksir memiliki harga keekonomian mencapai Rp 17.000 per liter.

Baca Juga: Mitsubishi Pede Kebutuhan Kendaraan Diesel Masih Kuat usai Harga BBM Dexlite Melonjak

Terkait besaran subsidi dan kompensasi yang harus dikucurkan, Saleh menyatakan belum bisa merinci angka pastinya. 

"Belum tahu angka pastinya, harga minyak dunia juga harga referensi MOPS naik turun, harga Pertamax juga biasanya naik turun tetapi selisihnya tidak terlalu lebar," ujarnya kepada Kontan.co.id, Minggu (10/5/2026).

Saleh menekankan, pemerintah memiliki pertimbangan matang dalam menjaga stabilitas harga, terutama pada jenis Bahan Bakar Minyak Khusus Penugasan (JBKP).

Salah satu fokus utamanya adalah menjaga agar selisih harga antara Pertamax (RON 92) dan Pertalite (RON 90) tidak terlalu jauh guna menjaga pola konsumsi masyarakat.

"Kondisi saat ini tidak mudah dan pemerintah pasti sudah mempertimbangkan seluruh aspek soal kenaikan harga JBKP. Menjaga harga Pertamax agar spread-nya tidak terlalu lebar dari harga Pertalite untuk mencegah potensi migrasi konsumen dari RON 92 ke RON 90 juga saya kira bagian dari pertimbangan tersebut baik oleh pemerintah maupun badan usaha," jelasnya.

Baca Juga: Pemerintah Tahan Harga BBM, Berapa Harga Keekonomian Pertamax 92? Ini Kata Pakar

Terkait sampai kapan harga BBM ini akan ditahan serta dampaknya terhadap kondisi kas keuangan PT Pertamina, Saleh enggan berkomentar lebih jauh. Menurutnya, hal tersebut merupakan ranah otoritas pembuat kebijakan dan pelaksana. 

"Nah ini bisa ditanyakan ke Kementerian ESDM dan Pertamina," pungkasnya.

Sebelumnya, Pengamat Ekonomi Energi dari Universitas Padjajaran, Yayan Satyakti menilai, terdapat selisih yang cukup lebar antara harga jual saat ini dengan harga keekonomian.

Berdasarkan prediksi perhitungannya per April lalu, harga batas atas Pertalite berada di level menyentuh Rp 16.968 per liter, sedangkan Pertamax berada di angka Rp 17.080 per liter.

"Perhitungan ini berdasarkan formula yang digunakan oleh Kepmen ESDM saat ini. Di mana harga BBM ditentukan oleh harga MOPS, nilai tukar, dan bobot alpha-nya yang ada di Kepmen ESDM tersebut," ujarnya kepada Kontan.co.id, Jumat (8/5/2026).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×