kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.837.000   27.000   0,96%
  • USD/IDR 16.991   62,00   0,37%
  • IDX 7.097   -67,03   -0,94%
  • KOMPAS100 977   -12,33   -1,25%
  • LQ45 719   -12,76   -1,74%
  • ISSI 250   -1,82   -0,73%
  • IDX30 391   -7,50   -1,88%
  • IDXHIDIV20 489   -9,60   -1,93%
  • IDX80 110   -1,54   -1,38%
  • IDXV30 134   -2,11   -1,54%
  • IDXQ30 128   -2,18   -1,68%

Harga Keekonomian Pertalite Saat Ini Mencapai Rp 12.000 Per Liter


Kamis, 02 November 2023 / 08:15 WIB
Harga Keekonomian Pertalite Saat Ini Mencapai Rp 12.000 Per Liter
ILUSTRASI. Tren kenaikan harga minyak mentah yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir turut mempengaruhi harga keekonomian BBM Pertalite. KONTAN/Muradi/2023/05/15


Reporter: Filemon Agung | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Tren kenaikan harga minyak mentah yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir turut mempengaruhi harga keekonomian BBM yang dijual di dalam negeri termasuk untuk Pertalite.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Tutuka Ariadji mengungkapkan, saat ini harga keekonomian Pertalite masih lebih tinggi ketimbang harga jual yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp 10.000 per liter.

"Harga keekonomian Pertalite masih lebih. Bisa sekitar Rp 2.000-an," kata Tutuka di Kementerian ESDM, Rabu (1/11).

Baca Juga: Konsumsi Pertalite Capai 75% Hingga Oktober 2023

Tutuka menjelaskan, dengan kondisi saat ini, pemerintah pun belum memiliki rencana untuk menurunkan harga jual Pertalite.

Menurutnya, saat ini harga minyak mentah cenderung belum stabil. Ia mencontohkan, di tengah tren harga minyak mentah yang meningkat, sejumlah Badan Usaha (BU) justru menurunkan harga jual BBM.

Baca Juga: Jaga Kuota Pertalite Tak Jebol, Begini Strategi Kementerian ESDM

Salah satu faktor pendorongnya yakni konflik Palestina-Israel yang kini masih berlangsung. Menurutnya, peranan negara OPEC+ cukup penting dalam menjaga tingkatan harga minyak mentah.

"Saya kira ini kan harga masih tidak stabil. Sejak kemarin OPEC+ mengurangi suplai. Tapi pada saat tertentu dia akan menambah suplai. Jadi ya perannya Saudi Arabia itu dan OPEC+  menentukan," pungkas Tutuka.
 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×