kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.819.000   -17.000   -0,93%
  • USD/IDR 16.565   165,00   0,99%
  • IDX 6.511   38,26   0,59%
  • KOMPAS100 929   5,57   0,60%
  • LQ45 735   3,38   0,46%
  • ISSI 201   1,06   0,53%
  • IDX30 387   1,61   0,42%
  • IDXHIDIV20 468   2,62   0,56%
  • IDX80 105   0,58   0,56%
  • IDXV30 111   0,69   0,62%
  • IDXQ30 127   0,73   0,58%

Harga kopi melejit hingga 40%


Minggu, 06 April 2014 / 16:22 WIB
Harga kopi melejit hingga 40%
ILUSTRASI. target kinerja PT Cisadane Sawit Raya Tbk (CSRA)


Reporter: Mona Tobing | Editor: Dikky Setiawan

JAKARTA. Anda penikmat kopi bersiaplah merogoh kocek lebih dalam. Harga minuman kopi diprediksi bakal naik seiring dengan kenaikan harga kopi dunia sejak awal April ini.

Memasuki April, harga kopi setiap harinya naik berkisar antara 1%- 6% hingga pada akhir pekan (4/4) mencapai US$ 1,85/lb. Sementara harga kopi lokal sejak 2 bulan terakhir telah naik berkisar 30% - 40%. 

Bursa ICE Futures US Soft melego harga kopi pada pekan lalu (4/4) mencapai US$ 1,85/lb dari U$ 1,77/lb pada 1/4. Sementara harga kopi lokal disebut Asosiasi Ekportir Kopi Indonesia (AKEI) telah naik 30% - 40%.

Kenaikan harga kopi dunia terjadi karena makin terbatasnya produksi kopi. 

Pranoto Soenarto, Wakil Ketua Kompartement Industri Kopi Spesialis AKEI mengatakan, tahun ini produksi kopi terbilang jelek. Penyebanya, hama tanaman tengah menjangkit pada tanaman kopi.

"Hama penyakit karat daun tengah terjadi di Amerika Tengah dan Selatan. Kondisi ini juga terjadi di tanah air. Plus, cuaca yang juga kurang kondusif," kata Pranoto pada Minggu (6/4). 

Produksi kopi di tanah air juga mulai mengalami penurunan. Pranoto mencontohkan, produksi kopi di Sumatara Utara misalnya sejak Maret lalu telah turun hingga 24% dari bulan normal. Sementara, kebutuhan kopi nasional tahun ini berkisar antara 150 ribu ton. 

Turunnya produksi kopi diakui Pranoto karena masalah klasik. Pertama, jumlah tanaman yang baru dan lama tidak seimbang. Pranoto menyebut, saat ini tanama lama mencapai 80% sementara tanaman baru hanya berkisar 20%. Alhasil, produksi kopi tidak bisa maksimal. 

Kedua, serangan jamur hingga tanaman tua yang membuat kualitas kopi menurun. Atas kondisi ini, Pranoto memprediksi tahun ini jumlah produksi kopi untuk ekspor dan impor tidak banyak berubah seperti tahun lalu. Dari total 600 ribu ton produksi kopi sebanyak 400,000 ton - 450.000 ton akan diekspor ke luar negri. Sementara 150 ribu - 200 ribu ton akan menjadi konsumsi lokal.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Survei KG Media

TERBARU
Kontan Academy
Supply Chain Management on Procurement Economies of Scale (SCMPES) Brush and Beyond

[X]
×