Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek industri petrokimia hingga akhir 2026 masih ditopang oleh pertumbuhan permintaan domestik. Namun, pelaku usaha tetap mewaspadai dampak memanasnya kembali konflik di Timur Tengah yang berpotensi mengganggu pasokan bahan baku (feedstock) dan mendorong kenaikan harga minyak dunia.
Untuk diketahui, harga minyak dunia kembali menguat pada perdagangan Rabu (15/7/2026) setelah konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memanas.
Mengutip Reuters, harga minyak Brent naik US$ 1,46 atau 1,72% menjadi US$ 86,19 per barel pada pukul 00.29 GMT. Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) menguat US$ 1,11 atau 1,4% menjadi US$ 80,40 per barel.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas), Fajar Budiono, mengatakan tantangan utama industri saat ini bukan berasal dari sisi permintaan, melainkan ketersediaan bahan baku.
"Permintaan dalam negeri sebenarnya masih tumbuh. Yang menjadi masalah sekarang adalah suplai feedstock. Dengan adanya perang di Timur Tengah, pasokan terganggu sehingga kami harus mencari alternatif sumber bahan baku dari negara lain," ujar Fajar kepada Kontan, Rabu (15/7/2026).
Baca Juga: Bisnis Gudang Logistik Tetap Kuat, Pengembang Optimistis Bertumbuh hingga Akhir 2026
Menurutnya, industri telah belajar dari gejolak sebelumnya dengan melakukan diversifikasi sumber pasokan. Selain mengurangi ketergantungan pada kawasan Timur Tengah, pelaku industri juga mulai menggunakan bahan baku alternatif selain nafta.
Fajar menjelaskan, industri kini memanfaatkan LPG yang dipasok dari Amerika Serikat dan Afrika Utara, sementara kondensat diperoleh dari dalam negeri maupun beberapa negara ASEAN. Adapun kebutuhan nafta juga dipenuhi dari Amerika Serikat dan kawasan Asia Timur.
Dengan strategi tersebut, dampak memanasnya kembali konflik di Timur Tengah dinilai tidak sebesar saat awal konflik pecah.
"Harga minyak memang sempat naik ke kisaran US$ 80 per barel. Tetapi secara umum tren harga masih menurun sehingga pengaruhnya terhadap harga bahan baku maupun produk plastik belum terlalu signifikan," katanya.
Di sisi lain, industri masih menghadapi tekanan akibat melimpahnya pasokan produk dari China. Pada Mei hingga Juni lalu, produsen China melakukan penjualan dalam jumlah besar sehingga memicu banjir produk di pasar Asia dan Eropa.
Kondisi tersebut masih terasa hingga Juli, terutama untuk komoditas polyvinyl chloride (PVC). Menurut Fajar, kebijakan kontrak penjualan jangka menengah yang diterapkan produsen China membuat produsen domestik kesulitan menjual produk di pasar dalam negeri.
Baca Juga: Pengembang Ini Perkuat Konsep Pengembangan Kota Mandiri Berkelanjutan
"Volume penjualan di dalam negeri turun. Ekspor juga terbatas sehingga stok barang sekarang masih banyak di gudang," ungkapnya.
Meski demikian, Fajar memastikan ketersediaan produk petrokimia nasional masih relatif aman karena persediaan saat ini cukup besar. Tantangan yang perlu diantisipasi lebih banyak berasal dari potensi kenaikan harga bahan baku apabila konflik geopolitik kembali memanas.
Selain faktor geopolitik, pelaku industri juga mencermati risiko gangguan logistik global. Fajar mengatakan, sebagian kapal pengangkut bahan baku masih terdampak kondisi di sekitar Selat Hormuz sehingga perusahaan harus lebih cermat mengatur jadwal pembelian dan pengiriman.
Tak hanya itu, industri juga mengantisipasi potensi gangguan di Terusan Panama apabila fenomena El Nino kembali menyebabkan penurunan debit air. Jika jalur tersebut tidak dapat dilalui kapal besar, waktu pengiriman dapat bertambah dari sekitar 50 hari menjadi hingga 70 hari.
"Jadi, yang harus diantisipasi bukan hanya perang, tetapi juga faktor cuaca. Karena keduanya bisa memengaruhi kelancaran rantai pasok dan biaya logistik," tutup Fajar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_24062609492500.jpg)
