kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.675.000   11.000   0,41%
  • USD/IDR 17.842   -48,00   -0,27%
  • IDX 6.402   100,12   1,59%
  • KOMPAS100 829   5,89   0,72%
  • LQ45 632   5,12   0,82%
  • ISSI 223   5,51   2,54%
  • IDX30 354   2,79   0,80%
  • IDXHIDIV20 430   2,74   0,64%
  • IDX80 95   0,68   0,73%
  • IDXV30 119   1,18   1,00%
  • IDXQ30 112   0,79   0,71%

Impor tak bisa redam harga pangan


Selasa, 07 Juni 2016 / 10:08 WIB


Reporter: Noverius Laoli | Editor: Dupla Kartini

Selama ini, tiga komoditas impor, yakni bawang merah, daging, dan gula merupakan komoditas strategis. Fluktuasi harga komoditas ini menyumbang cukup besar inflasi. "Kontribusi tiga komoditas pangan ini sangat tinggi terhadap inflasi dan bahkan penentu inflasi," ujarnya.

Arief mengatakan, untuk mengatasi persoalan menahun ini, seharusnya pemerintah memiliki manajemen pasokan pangan lebih baik. Minimal tiga bulan sebelum Lebaran, pemerintah sudah memiliki data akurat berapa kebutuhan dan ketersediaan pangan. Dengan begitu, tahu jelas berapa kekurangan yang harus diimpor.
 
Alhasil, keputusan impor sudah ditetapkan jauh hari, sehingga  saat memasuki bulan Ramadan, sudah tidak ada lagi kisruh pangan dan kebijakan impor yang mendadak.

Arief mengambil contoh, sekitar 70% ketersediaan daging sapi nasional dipenuhi daging lokal dan 30% dari impor. Begitu juga dengan bawang merah. Seharusnya melihat kondisi itu, pemerintah bisa mengantisipasi agar tidak ada gejolak harga.

Indonesia memang sudah swasembada bawang merah. Namun, panen bawang merah termasuk musiman. Padahal, kebutuhannya sepanjang tahun. Karena itu, perlu solusi cepat untuk mengatasi persoalan itu. "Data juga simpang siur, tak heran pemerintah kalang kabut," ujar Arief.   

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×