Reporter: Arfyana Citra Rahayu | Editor: Khomarul Hidayat
Berlanjut di 2020-2021 tren munculnya brand lokal semakin tinggi. Stephen menilai, brand parfum lokal yang terus bertahan di 2022 ini jelas merupakan brand yang memang terbukti dapat mempertahankan kualitas produk mereka sehingga penggemarnya tetap menanti rilisan produk baru dr mereka.
"Yang menjadi idola baru saat ini (saat artikel ini ditulis) adalah Moroccan Sunset dari Alt. Perfumery, lalu Reine de Nuit dari DC Parfumeur," jelasnya.
Namun demikian, brand lokal pun mulai berpikir outside the box. Stephen mengungkapkan, saat ini sudah ada brand lokal yang bermaksud mencoba membentangkan sayap bisnisnya ke luar negeri, yakni HMNS. Rencananya, brand parfum lokal ini akan memasarkan produknya yang bernama Ambar Janma di Paris pada Maret 2022 mendatang, jelas suatu kebanggaan jika ternyata parfum ini dapat diterima dengan baik di Paris.
Sejatinya sudah ada beberapa parfum brand lokal yang kualitasnya dapat bersaing di dunia internasional seperti parfum dari Alien Objects dan DC Parfumeur. "Namun, kembali lagi, industri parfum lokal memerlukan banyak dukungan untuk melakukan hal tersebut. Recognition dari fragheads international itu baru bisa diperoleh saat parfum kita bisa masuk listing situs seperti fragrantica.com," terangnya.
Baca Juga: Hoki nan harum Tubagus Wijaya pengusaha parfum
Stephen menyebut, diperlukan dukungan sosial media, dan pejabat pemerintahan serta kementrian pariwisata untuk dapat meningkatkan kesadaran terhadap brand parfum lokal, dengan cara bangga mempergunakan produk Indonesia, dan memberikan dukungan baik dana maupun exposure bagi pengembangan parfum lokal berkualitas.
Owner DC Perfumeur, Muhammad menambahkan, geliat industri parfum di Indonesia jika dilihat dari sisi banyaknya brand yang bermunculan, bisa dikatakan sangat baik perkembangannya.
"Namun kalau dilihat dari sisi sumber daya manusianya, masih belum bisa dikatakan membaik. Industri parfum lokal masih kekurangan perfumer. Hal ini dapat menyebabkan masalah selanjutnya yakni kekurangan alat yang memadai karena dari sisi supply demand kurang," ujarnya.
Menurutnya, persoalan ini saling bertautan lantaran dukungan pemerintah ke industri lokal juga harus dilandaskan simbiosis mutualisme atawa saling menguntungkan. Pria yang kerap disapa Moe ini mengungkapkan, minat perfumery di Indonesia masih sangat minim dan sangat asing.
Bagi Moe, kemampuan sumber daya manusia perlu ditingkatkan terlebuh dahulu karena law of attraction itu nyata. "Ketika kita punya banyak skilled perfumer, yang lain pasti bakal mengikuti (fasilitas, bantuan pemerintah dll). Karena percuma juga kalau pemerintah mendukung, BPOM mendukung tapi ga punya skilled perfumer yang memadai," tegasnya.
Justru Moe lebih berharap bantuan dari pemerintah berupa kemudahan untuk mengurus BPOM selaku industri kecil yang baru memulai atau UMKM yang punya modal terbatas.
Usaha rintisan yang dijalankan Moe sejak 2017 ini sudah mendapatkan pengakuan bahwa salah satu produknya layak disandingkan dengan parfum dari luar negeri. Namun Moe mengatakan, untuk jangka waktu dekat dirinya masih mengutamakan pasar lokal dan fokus pada kualitas parfum.
Baca Juga: Parfum-Parfum Ini Miliki Aroma Khas dan Ikonik, Mana yang Jadi Favorit Anda