kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   -20.000   -0,70%
  • USD/IDR 17.500   -30,00   -0,17%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Ini keuntungan punya Inalum menurut Dahlan Iskan


Senin, 21 Oktober 2013 / 21:42 WIB
ILUSTRASI. Serial Somebody Feed Phil, merupakan serial dengan tema kuliner yang populer dan bisa ditonton di Netflix.


Reporter: Fahriyadi | Editor: Dikky Setiawan

JAKARTA. Keinginan pemerintah pusat untuk mengambil alih 58,8% saham PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) milik Nippon Asahan Alumunium (NAA), tampaknya sudah bulat.

Namun, mungkin banyak publik yang belum paham apa keuntungan negara memiliki Inalum dan menjadikannya sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Menteri Negara BUMN, Dahlan Iskan mengungkapkan, Inalum memproduksi aluminium dan bisnis komoditas tambang ini memiliki prospek keuntungan yang sangat besar.

"Bisnis aluminium sangat menguntungkan. Sebab, saat ini kebutuhan aluminium sangat besar untuk pembangunan dan selama ini kebutuhannya kita impor," katanya, Senin (21/10).

Menurutnya, keuntungan lain bagi Indonesia adalah 70% produksi Inalum yang selama ini harus dikirim ke Jepang hal itu tidak akan terjadi lagi. Selain itu, jika sebelumnya Indonesia impor aluminium, ke depan bukan tak mungkin negeri ini bisa menjadi eksportir aluminium.

Bukan cuma itu. Keuntungan lainnya, menurut Dahlan, Inalum juga memiliki pembangkit listrik berkapasitas 600 Megawatt. Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) berasal dari Danau Toba dan disebut Dahlan memiliki harga yang rendah.

"Misalnya kalau bisnis aluminiumnya tidak lagi menguntungkan, maka listriknya bisa dijual ke PLN," ujar Dahlan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×