Reporter: Elisabeth Adventa | Editor: Rizki Caturini
Kartu Tani yang baru saja didistribusikan ke 21 kabupaten/ kota di Provinsi Jawa Tengah pekan lalu diharapkan memberi manfaat signifikan bagi para petani. Sigit Rusdianto, petani cabai asal Temanggung, Jawa Tengah mengatakan, Kartu Tani bisa maksimal manfaatnya bagi para petani kecil yang kebutuhan pupuk subsidinya tinggi.
Setiap petani punya kuota subsidi pupuk masing-masing, sesuai dengan Rencana Dasar Kebutuhan Kelompok (RDKK). Sigit menjelaskan dengan adanya Kartu Tani, para petani diajak untuk merancang pengolahan lahannya lebih matang. Penggunaan pupuk punya takarannya sendiri, tergantung pada luas lahan, jenis, dan jumlah komoditas yang akan ditanam.
"Selama ini yang terjadi, distribusi pupuk subsidi ini tidak terkontrol. Akhirnya petani yang seharusnya membutuhkan malah kesulitan cari pupuk subsidi tersebut," ungkapnya pekan lalu.
Bagi Sigit, manfaat Kartu Tani dalam bisnis pertaniannya memang tidak seberapa, hanya sekitar 5% dari total anggaran pengolahan lahan. Namun, bagi para petani dengan lahan dan modal terbatas, Kartu Tani bisa menopang sekitar 25% hingga 30%. Di samping distribusi pupuk bersubsidi, pemegang Kartu Tani juga berhak mendapatkan asuransi jika gagal panen. Jumlah ganti rugi yang dibayarkan maksimal Rp 6 juta.
Yang paling penting dari program Kartu Tani adalah pendataan para petani. Jika pemerintah dan pihak bank punya data yang jelas tentang komoditas, luas lahan, dan masa panen, maka kejadian seperti melonjaknya harga komoditas bisa diminimalisir. Selain itu, persoalan pemberian Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk para petani dijamin akan lebih mudah karena pihak bank punya data yang jelas.
Tak hanya para petani yang mendapatkan manfaat dari program Kartu Tani ini, pihak bank tentu juga diuntungkan. Direktur Mikro dan Bisnis UKM BRI, Mohammad Irfan menyatakan, dengan adanya Kartu Tani, pihak bank bisa memiliki kemudahan.
Pertama, pihak bank bisa memiliki database calon nasabah prospektif. Kami bisa dapat penghasilan dari bisnis dengan para petani yang mendatangkan bunga dan fee based income. "Bisa juga mencari nasabah baru melalui relasi-relasi mereka, kata M. Irfan.
Kedua, pihak bank, dalam hal ini BRI, bisa memproyeksi kebutuhan kredit di sektor pertanian. Misal, mengetahui apa saja potensi pertanian di tiap daerah, mengetahui bisnis turunan pertanian yang potensial untuk digarap.
Sedangkan tantangan dari program Kartu Tani ini adalah verifikasi data yang akurat. Jumlah petani di Indonesia sangat banyak, sehingga butuh pendampingan intesif bagi para petani. Hal ini tentu akan memakan waktu yang tidak sebentar. Kendalanya, menyangkut perilaku kebiasaan petani. Karena kalau pakai kartu, pengguna harus tunduk pada sistem kartu.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, pihak bank bekerja sama dengan instansi terkait seperti dinas pertanian setempat untuk mendata dan melakukan verifikasi dengan benar. Kedua, terkait sosialisasi dan pendampingan dalam menggunakan fitur kartu dan manfaat kartu. Tiap Kartu Tani dilengkapi dengan kuota belanja pupuk, bibit, dan segala sesuatu yang terkait dengan kebutuhan pertanian.
Penggunaan Kartu Tani sama seperti kartu ATM pada umumnya, yaitu dengan cara menggesek pada mesin IBC yang disediakan di tiap kios pupuk. Saat ini, BRI sendiri telah bekerja sama dengan ribuan kios pupuk di 22 kabupaten/ kota, provinsi Jawa Tengah. Di Jawa Tengah, total kios pupuk lengkap jumlahnya sekitar 4.000 kios.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News