Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pengembang kawasan industri melirik sejumlah sektor usaha yang berpotensi mengucurkan investasi pada tahun ini. Peluang masih datang dari Penanaman Modal Asing (PMA) dan relokasi pabrik maupun dari investor domestik.
Ketua Umum Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI) Akhmad Ma’ruf Maulana mengungkapkan bahwa efek perang dagang dan eskalasi geopolitik membuka peluang relokasi investasi dari sejumlah perusahaan global. Asia Tenggara menjadi tujuan pengalihan basis produksi. HKI memotret Indonesia masuk radar investor global.
Ma'ruf memperkirakan industri semi-konduktor, pusat data (data center) dan industri berbasis hilirisasi akan menggerakkan investasi di kawasan industri pada tahun ini. Permintaan lahan juga datang dari industri berbasis energi hijau atau transisi energi seperti manufaktur produk Battery Energy Storage System (BESS), baterai kendaraan listrik (EV battery), solar panel, hingga green hydrogen.
"Kawasan industri yang siap energi dan utilitas akan tumbuh lebih cepat. Dengan fondasi kebijakan yang lebih kuat, diplomasi ekonomi yang terarah, dan kesiapan kawasan yang semakin matang, HKI optimistis tahun 2026 akan menjadi titik akselerasi bagi kawasan industri," ungkap Ma'ruf kepada Kontan.co.id beberapa waktu yang lalu.
Baca Juga: Kebutuhan Data Center Dorong Prospek Kawasan Industri Bekasi Fajar Industrial Estate
Corporate Secretary PT Intiland Development Tbk (DILD), Theresia Rustandi menyoroti proyeksi dan data dari Kementerian Perindustrian (Kemenperin) yang menunjukkan bahwa sektor manufaktur masih menjadi salah satu motor utama pertumbuhan ekonomi nasional. Kebijakan hilirisasi dan substitusi impor juga mendorong peningkatan permintaan kawasan industri yang siap pakai dan terintegrasi.
"Dari perspektif pengembang, hal ini membuka peluang bagi kawasan industri yang memiliki perencanaan matang, infrastruktur memadai, serta mampu mendukung kebutuhan produksi jangka panjang," kata Theresia saat dihubungi Kontan.co.id, Senin (2/2/2026).
Sejalan dengan kebijakan Kemenperin, permintaan kawasan industri pada tahun 2026 diperkirakan tetap didominasi sektor manufaktur. Terutama sub sektor yang mendukung penguatan pasar domestik dan substitusi impor seperti logam dasar, makanan dan minuman, kimia, serta farmasi.
"Untuk menangkap peluang tersebut, Intiland mengembangkan kawasan industri yang selaras kebijakan pemerintah dan kebutuhan investor, dengan fokus pada kesiapan infrastruktur, keandalan utilitas, dan fleksibilitas lahan," ujar Theresia.
Baca Juga: Menilik Daftar Sektor Unggulan yang Akan Investasi ke Kawasan Industri pada 2026
Dihubungi terpisah, Head of Corporate Finance & Investor Relations PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk (BEST) Rika Mandasari berharap dukungan kebijakan pemerintah yang lebih pro-pertumbuhan, pembangunan infrastruktur, serta tren penurunan suku bunga akan mendorong realisasi investasi. Di sisi lain, investor tetap selektif dengan memilih lokasi yang strategis dengan kesiapan infrastruktur.
BEST memandang potensi permintaan lahan bersumber dari ekspansi bisnis domestik, relokasi Lokasi pabrik, dan pertumbuhan masif di sektor berbasi teknologi tinggi, seperti data center. "Meskipun ada berbagai tantangan global, Indonesia masih menjadi salah satu tujuan investasi yang menarik bagi pemodal asing, baik untuk relokasi pabrik maupun ekspansi baru," kata Rika.
Selain PMA, Rika menyebut bahwa minat dari investor domestik atau Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) juga tetap terjaga. Permintaan lahan akhir tahun 2025 pada pipeline BEST mencapai sekitar 70 hektare. Beberapa pipeline sudah berhasil terealisasi pada tahun 2025.
Sedangkan permintaan pipeline saat ini terdiversifikasi dari beberapa sektor seperti data center, F&B, logistic-warehouse, packaging, hingga otomotif. "Kami terus memperkuat daya saing kawasan industri MM2100 melalui berbagai inisiatif," ujar Rika.
Sementara itu, Direktur Utama PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) Johannes Suriadjaja melirik peluang yang datang dari industri otomotif, tekstil, data center dan industri yang terkait dengan kebutuhan konsumsi sehari-hari atau Fast-Moving Consumer Goods (FMCG). "SSIA tetap mempromosikan investasi di Indonesia ke negara-negara Asia, Eropa dan Amerika," kata Johannes.
Baca Juga: HKI Usul Bentuk Tim Percepatan Kawasan Industri untuk Mengurai Hambatan Investasi
Sedangkan Chairman & Founder PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) Setyono Djuandi Darmono menyoroti peluang dari upaya diversifikasi rantai pasok global yang masih berlangsung, lantaran perusahaan global tidak ingin hanya bergantung pada satu negara. Peluang untuk menangkap relokasi pabrik global masih terbuka, terutama dari Jepang, Korea Selatan, China, Taiwan dan Eropa.
Di sisi yang lain, Darmono melihat kebijakan hilirisasi dan industrialisasi nasional mulai menunjukkan hasil, khususnya di sektor logam, kimia, dan energi. Pada 2026, KIJA melihat permintaan lahan industri datang dari beberapa sektor utama, baik dari PMA maupun PMDN.
Pertama, industri manufaktur yang berorientasi ekspor. Antara lain industri otomotif & komponen, termasuk kendaraan listrik atau Electric Vehicle (EV) dan baterai, serta industri mesin dan elektronik.
Kedua, industri berbasis Sumber Daya Alam (SDA) atau hilirisasi. Antara lain mencakup industri logam, kimia dasar dan petrokimia, serta agro-industri bernilai tambah.
Ketiga, industri berbasis teknologi tinggi. Antara lain data center & infrastruktur digital, kesehatan dan alat medis, serta bio-teknologi, processed food dan clean technology.
Meski begitu, Darmono memberikan catatan bahwa kawasan industri masih berhadapan dengan sederet tantangan. Mulai dari ketersediaan dan harga energi yang kompetitif, kesiapan infrastruktur pendukung (air, listrik, logistik), kualitas dan produktivitas tenaga kerja, serta kepastian dan konsistensi regulasi.
"Harapan kami, pemerintah pusat dan daerah dapat terus memperkuat sinergi dengan pengelola kawasan industri agar Indonesia tidak hanya menjadi tujuan investasi, tetapi juga menjadi basis produksi berdaya saing global," tegas Darmono.
Johannes turut menyoroti regulasi dan kebijakan pemerintah yang menjadi pertimbangan penting bagi para investor global. "Kalau Indonesia bisa menjelaskan kebijakan dan regulasi dengan baik ke dunia dan manfaatnya, itu akan sangat signifikan," tandas Johannes.
Baca Juga: HKI Ungkap Capaian dan Tantangan Kawasan Industri 2025 serta Peluang pada 2026
Selanjutnya: OJK: Transparansi Kepemilikan hingga 1% Cegah Praktik “Goreng” Saham
Menarik Dibaca: Peringatan Dini BMKG Cuaca Besok (3/2), Hujan Sangat Deras Guyur Provinsi Ini
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













