kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.120.000   -48.000   -1,52%
  • USD/IDR 16.805   19,00   0,11%
  • IDX 8.330   97,40   1,18%
  • KOMPAS100 1.165   25,83   2,27%
  • LQ45 834   20,52   2,52%
  • ISSI 298   2,18   0,74%
  • IDX30 430   8,24   1,96%
  • IDXHIDIV20 510   9,16   1,83%
  • IDX80 129   2,93   2,32%
  • IDXV30 139   2,61   1,92%
  • IDXQ30 139   3,06   2,26%

Kata pengamat perihal sistem beli putus tebu petani


Selasa, 02 Oktober 2018 / 21:43 WIB
Kata pengamat perihal sistem beli putus tebu petani
ILUSTRASI. HARGA ACUAN GULA PETANI RENDAH


Reporter: Annisa Maulida | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pengamat gula Adig Suwandi mengatakan ada kekurangan dan kelebihan yang akan didapat petani tebu, sehubungan saran Perum Bulog mengubah sistem pembelian tebu petani oleh Pabrik Gula Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dari bagi hasil menjadi sistem beli putus.

"Sebenarnya bukan gula beli putus, tapi beli tebu secara putus. Kelebihan pertama jika membeli tebu secara putus, semua akan menjadi milik pabrik gula dan pabrik gula memiliki otoritas untuk mengatur gula tersebut lalu petani sudah tidak punya lagi gula,” katanya, Selasa (2/10).

Kedua, petani lebih cepat menerima hasil dari tebu tersebut. Kelemahannya, pabrik gula harus menyediakan dana yang cukup banyak untuk membeli gula dari petani ini.

Menurut Adig, sistem beli putus tersebut tidak banyak berpengaruh ke petani, jika akhirnya yang diterima petani adalah keuntungan dalam bentuk biaya total lalu berapa pendapatan yang diterimanya.

"Seharusnya kita tidak hanya terpaku kepada Harga Eceran Tertinggi (HET) yang Rp 12.500 per kg. Tapi juga ada harga dasar yang digunakan untuk membeli gula berapa," ujar Adig.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
SPT Tahunan PPh Coretax: Mitigasi, Tips dan Kertas Kerja Investing From Zero

[X]
×