kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.819.000   -20.000   -0,70%
  • USD/IDR 17.586   33,00   0,19%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Kemalasan operator membangun jaringan telekomunikasi menghambat ekonomi digital


Minggu, 13 Desember 2020 / 22:31 WIB
ILUSTRASI. Menara Base Transceiver Station BTS milik XL Axiata EXCL


Reporter: Ahmad Febrian | Editor: Ahmad Febrian

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) tengah melakukan evaluasi dan perpanjangan izin pita frekuensi radio (IPFR) operator telekomunikasi. Izin tersebut di frekuensi 800 Mhz, 900 Mhz dan 1.800 Mhz. Menteri Kominfo, Johnny G. Plate meminta operator telekomunikasi agar memenuhi komitmen  membangun di 3.435 daerah non komersial yang belum mendapatkan layanan telekomunikasi. 

Terkait langkah tersebut, Ahmad Alamsyah Saragih, Komisioner Ombudsman Republik Indonesia menegaskan, komitmen  pembangunan di 3.435 daerah non komersial adalah amanat UU No.  39 tahun 1999 tentang Telekomunikasi dan konstitusi. Efek kemalasan operator telekomunikasi membangun jaringan terlihat saat pandemi. 

Masih banyak masyarakat di daerah terpencil tak mendapatkan sinyal telekomunikasi. Padahal di kala pandemi, peran digital begitu besar.  “Operator yang dahulu bermain-main dengan komitmen  pembangunan, baru sekarang menyadari akibatnya,”kata Alamsyah ke Kontan.co.id. Ahad (13/12). 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×