kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.860.000   3.000   0,11%
  • USD/IDR 17.127   21,00   0,12%
  • IDX 7.458   150,91   2,07%
  • KOMPAS100 1.029   19,80   1,96%
  • LQ45 746   12,57   1,71%
  • ISSI 269   4,55   1,72%
  • IDX30 400   7,29   1,85%
  • IDXHIDIV20 490   9,98   2,08%
  • IDX80 115   1,84   1,62%
  • IDXV30 135   1,86   1,40%
  • IDXQ30 129   2,36   1,86%

Kemenperin dan Pelaku Usaha Bahas Substitusi Bahan Baku Plastik dari Timteng


Kamis, 09 April 2026 / 16:25 WIB
Kemenperin dan Pelaku Usaha Bahas Substitusi Bahan Baku Plastik dari Timteng
ILUSTRASI. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita (KONTAN/Diki Mardiansyah.)


Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita memastikan pemerintah telah berkoordinasi dengan pelaku usaha untuk menyiapkan substitusi bahan baku plastik di tengah gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah (Timteng).

Politikus Golkar itu mengatakan, kendala pasokan bahan baku plastik seperti nafta akibat dinamika geopolitik global memang terjadi. Namun, pemerintah telah mengantisipasi melalui pembahasan intensif dengan kalangan industri.

“Plastik saya kira wajar ya kalau ada masalah sedikit mengenai supply, tetapi ada substitusinya yang memang sudah kita bicarakan dengan para pelaku usaha,” ujarnya ditemui di Menara Kompas, Kamis (9/4/2026).

Baca Juga: Kemenperin Godok Insentif Motor Listrik dengan Kemenkeu

Menurut Agus, normalisasi distribusi global sangat bergantung pada stabilitas kawasan, termasuk perkembangan kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran terkait pembukaan jalur pelayaran di Selat Hormuz. Jika jalur tersebut kembali normal, rantai pasok bahan baku petrokimia diharapkan ikut pulih.

Sebelumnya, Kementerian Perindustrian memastikan ketersediaan bahan baku plastik nasional tetap terjaga meski terjadi tekanan geopolitik global yang berdampak pada kenaikan harga. Gangguan pasokan nafta sebagai bahan baku utama industri plastik telah meningkatkan biaya di sektor hulu.

Agus menjelaskan, untuk meredam dampak tersebut, pemerintah bersama pelaku industri petrokimia telah menempuh sejumlah langkah strategis. Salah satunya mencari sumber pasokan alternatif di luar Timur Tengah guna mengurangi ketergantungan pada kawasan tersebut.

Selain itu, industri juga mulai mengoptimalkan penggunaan LPG sebagai bahan baku penyangga (buffer) untuk menjaga kesinambungan produksi. Pemanfaatan plastik daur ulang berkualitas tinggi juga didorong sebagai alternatif guna menjaga stabilitas pasokan di pasar domestik.

Di sisi lain, Agus memastikan kondisi stok plastik dalam negeri masih aman. Hal ini tercermin dari Indeks Kepercayaan Industri (IKI) yang menunjukkan subsektor industri kemasan masih berada dalam fase ekspansi tinggi pada Maret 2026.

Ia mengakui terdapat kenaikan harga di tingkat produksi akibat lonjakan biaya bahan baku global. Namun, ia menegaskan tidak ada potensi kelangkaan bahan baku plastik di dalam negeri.

“Ketersediaan tetap aman, pemerintah memastikan tidak terjadi kekosongan stok dengan mengoptimalkan berbagai sumber pasokan,” jelasnya.

Sebelumnya, Direktur Management Support PT Lotte Chemical Indonesia, Cho Jin-Woo, menyampaikan pihaknya juga telah melakukan diversifikasi sumber bahan baku untuk menjaga pasokan bagi industri hilir.

Ia menegaskan, perusahaan memprioritaskan alokasi produksi untuk pasar domestik di tengah tekanan rantai pasok global. Namun, operasional perusahaan saat ini tetap disesuaikan dengan kondisi logistik yang ada.

"LCI terus mengoptimalkan seluruh sumber daya yang tersedia untuk meminimalkan dampak gangguan terhadap pelanggan, sekaligus mendukung stabilitas sektor manufaktur nasional," ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (8/4/2026).

Baca Juga: Menakar Efek Perang Timur Tengah ke Industri Alas Kaki Nasional

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×