kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.922.000   20.000   0,69%
  • USD/IDR 17.029   29,00   0,17%
  • IDX 7.095   -89,91   -1,25%
  • KOMPAS100 981   -12,12   -1,22%
  • LQ45 720   -7,16   -0,99%
  • ISSI 254   -3,24   -1,26%
  • IDX30 390   -3,04   -0,77%
  • IDXHIDIV20 485   -2,52   -0,52%
  • IDX80 111   -1,22   -1,09%
  • IDXV30 134   -0,39   -0,29%
  • IDXQ30 127   -0,90   -0,70%

Kementerian ESDM tolak permintaan relaksasi royalti pengusaha batubara


Jumat, 05 Juni 2020 / 19:15 WIB
ILUSTRASI. Tambang Batubara


Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Anna Suci Perwitasari

Dalam kesempatan yang sama, Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati, mendukung langkah pemerintah untuk tidak mengabulkan permintaan insentif dari pelaku usaha batubara.

Enny menilai, permintaan insentif tersebut tidak memiliki landasan yang kuat. Menurutnya, penghitungan royalti harus tetap mengacu pada harga patokan. Apalagi, harga patokan tersebut dinilai cukup fair dengan menghitung indeks harga serta dievaluasi setiap bulan.

"Jika memakai harga jual, bisa suka-suka. Sedangkan pemerintah dalam memberikan harga acuan tidak suka-suka, ada panduannya, dan dikoreksi setiap bulan," jelas dia. 

Baca Juga: Konsumsi anjlok, PLN revisi serapan batubara domestik

Dia juga berpandangan, kewajiban seperti royalti yang diberikan pelaku usaha batubara tergolong kecil jika dibandingkan margin keuntungan yang dinikmati. Dalam perhitungannya, rata-rata kewajiban royalti yang dibayarkan pelaku usaha hanya 6%, sementara rata-rata profit margin yang dinikmati pelaku usaha batubara dalam kondisi normal bisa sekitar 20%.

Dengan kondisi nilai tukar rupiah yang cenderung menguat, semestinya pelaku usaha batubara tetap bisa bertahan dalam kondisi seperti sekarang. "Semestinya mawas diri bagi yang mengajukan. Usulan ini sangat tidak ada justifikasinya," sebut Enny.




TERBARU

[X]
×