kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   -20.000   -0,70%
  • USD/IDR 17.500   -30,00   -0,17%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Kian perkasa, pasar jamu mencapai Rp 14 triliun


Selasa, 18 Februari 2014 / 12:30 WIB
ILUSTRASI. Peringatan dini BMKG cuaca besok hujan lebat, provinsi berikut ini dalam status Siaga dan Waspada bencana. ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra.


Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk | Editor: Asnil Amri

SEMARANG. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menemukan adanya perkembangan yang menggembirakan dari industri obat herbal atau jami tahun 2013 lalu. Menurut data Kemenperin, penjualan industro obat herbal tahun 2013 mencapai Rp 14 triliun.

MS Hidayat, Menteri Perindustrian bilang, angka itu diproyeksikan akan naik tahun ini. "Diperkirakan penjualan akan mencapai Rp 15 triliun (2014)," kata Hidayat dalam sambutannya di acara peletakan batu pertama perluasan pabrik bahan baku PT Sido Muncul di Semarang, Selasa (18/2).

Saat ini, Hidayat mengatakan, ada 1.247 industri jamu yang terdiri dari 129 Industri Obat Tradisional (IOT) dan sisanya masuk golongan Usaha Menengah Obat Tradisional (UMOT) dan Usaha Kecil Obat Tradisional (UKOT) yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.

Lebih lanjut, ia menilai, industri obat tradisional mampu menyerap 15 juta tenaga kerja. Tiga juta diantaraya terserap di industri jamu yang berfungsi sebagai obat dan 12 juta terserap ke industri jamu yang berkembang ke arah makanan, minuman, komestika dan aromaterapi. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×