Reporter: Hervin Jumar | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menegaskan satelit masih menjadi infrastruktur kunci dalam menjaga konektivitas nasional di tengah tekanan geopolitik global, disrupsi teknologi low earth orbit (LEO), serta meningkatnya risiko bencana alam di Indonesia.
Sekretaris Jenderal Komdigi, Ismail, mengatakan perubahan lanskap industri satelit global, termasuk persaingan dengan teknologi jaringan darat dan LEO, tidak mengurangi urgensi peran satelit bagi Indonesia.
Menurutnya, karakter geografis Indonesia sebagai negara kepulauan sekaligus wilayah cincin api membuat konektivitas berbasis satelit tetap menjadi kebutuhan utama untuk menjangkau seluruh wilayah.
Baca Juga: Harga Pertamax Ditahan di Rp 12.300, Pemerintah Beri Kompensasi BBM Non-Subsidi?
“Ketika kita membangun layanan satelit, ini bukan hanya soal konektivitas. Kita berbicara tentang inklusivitas, bagaimana seluruh masyarakat dapat terhubung secepat mungkin,” ujar Ismail dalam acara Asia Pacific Satellite International Conference (APSAT) 2026 di Jakarta, Selasa (12/5/2026).
Ia menambahkan, kondisi Indonesia yang rawan gempa bumi, tsunami, dan letusan gunung api membuat kebutuhan sistem komunikasi yang tangguh menjadi semakin mendesak, terutama untuk mendukung respons bencana.
“Kita memiliki banyak gunung berapi, gempa bumi, dan ancaman tsunami. Kita membutuhkan konektivitas yang tangguh dan aman,” katanya.
Ismail juga menilai perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) mulai menjadi faktor penting dalam industri satelit, terutama untuk meningkatkan efisiensi layanan dan menekan biaya operasional.
Baca Juga: Kemenhub Beberkan Langkah Percepatan Menuju Mandatori Bioavtur 1% Tahun 2027
Ia menyebut AI berpotensi menjadi bagian penting dalam pengelolaan layanan satelit ke depan, termasuk untuk mendukung sektor pendidikan, kesehatan, hingga pertanian di wilayah terpencil.
“AI sangat penting untuk mengurangi biaya dan meningkatkan kualitas layanan satelit. Ini bisa menjadi terobosan baru terutama bagi satelit geostasioner,” ujarnya.
Di sisi lain, Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Komdigi menegaskan satelit tetap menjadi tulang punggung utama dalam memperluas akses internet di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar).
Kepala Divisi Satelit dan Akses Internet BAKTI, Harris Sangidun, menyebut pemerintah saat ini mengandalkan satelit SATRIA-1 untuk menjangkau layanan publik seperti sekolah, puskesmas, dan fasilitas pemerintahan di daerah blank spot yang belum terlayani jaringan fiber optik maupun BTS darat.
Ia menilai, pemanfaatan SATRIA-1 terus meningkat seiring penambahan titik layanan internet di berbagai wilayah sejak 2024 hingga 2025.
“Sampai saat ini SATRIA-1 sudah terisi sekitar 84% karena kami membangun site baru untuk akses internet yang lebih luas,” kata Haris.
Ia menambahkan, pengembangan infrastruktur digital nasional dilakukan secara terintegrasi melalui kombinasi jaringan Palapa Ring, satelit, serta layanan akses internet berbasis komunitas untuk memperkecil kesenjangan digital antardaerah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













