CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ451.018,33   10,53   1.04%
  • EMAS995.000 0,00%
  • RD.SAHAM -0.30%
  • RD.CAMPURAN -0.02%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.01%

Kurangi bauran batubara, Co-firing Biomassa pada PLTU ditargetkan bisa 1%-3% di 2025


Jumat, 12 Juni 2020 / 15:16 WIB
Kurangi bauran batubara, Co-firing Biomassa pada PLTU ditargetkan bisa 1%-3% di 2025
ILUSTRASI. PT Charta Putra Indonesia terus menggeber pengerjaan proyek pembangkit listrik tenaga biomassa (PLTBM) Siberut


Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah tengah mengupayakan adanya pemanfaatan biomassa guna mengurangi porsi batubara yang masih dominan secara nasional. Hal itu dilakukan sembari mendorong capaian target bauran Energi Baru dan Terbarukan (EBT) pada tahun 2025.

Hingga akhir tahun 2019, bauran EBT mencapai 9,15%, yang mana 6,2% berasal dari Pembangkit Listrik Tenaga (PLT) EBT. 2,95% diantaranya berasal dari Bahan Bakar Nabati (BBN) alias biodiesel.

Baca Juga: PT PJB akselerasi pemanfaatan EBT melalui Co-Firing biomassa

Sementara pada tahun 2025, bauran EBT ditargetkan 23% dimana PLT EBT ditargetkan memberikan porsi bauran sebesar 13%-15%, PLT Bioenergi 2%-5%, dan BBN 2%-3%.

Direktur Bioenergi Kementerian ESDM Andriah Febby Misna mengungkapkan, pengembangan biomassa akan dioptimalkan antara lain bersumber dari sampah dan pelet biomassa dari tanaman energi melalui mekanisme co-firing.

"Kita akan upayakan juga untuk bisa melakukan co-firing dengan biomassa pada pembangkit di PLTU dan mudah-mudahan bisa kita kejar target paling tidak 1%-3% di tahun 2025," ungkap Febby dalam keterangan tertulisnya, Jum'at (12/6).

Febby merinci, rencana strategis pengembangan biomassa sebagai sumber energi berkelanjutan antara lain:

(1) Memperbaiki tata kelola pengusahaan bioenergi termasuk revisi Peraturan terkait Pembelian Tenaga Listrik dari Energi Terbarukan,

(2) Mendorong peningkatan kapasitas PLT Biomassa (project pipeline) dengan memastikan komitmen pihak-pihak terkait dalam pengembangan PLT Biomasa sesuai RUPTL.

(3) Mendorong pembangkit Captive Power untuk menjual kelebihan listrik pada PT PLN (Persero) dengan skema Excess Power.

(4) Melakukan co-firing pelet Biomassa pada existing PLTU,

(5) Pengembangan PLT Biomassa skala kecil untuk Wilayah Indonesia bagian timur dan 3T secara massif,

(6) Pengembangan hutan tanaman energi dan pemanfaatan lahanlahan sub optimal untuk biomassa melalui kerja sama dengan KLHK, K/L terkait dan Pemda.

(7) Mendorong penggunaan limbah agro industri termasuk re-planting perkebunan sawit untuk pembangkit listrik, dan (8) Mendorong produksi dan pengembangan pellet biomassa dan RDF yang bersumber dari sampah dan limbah biomassa untuk energi.

Baca Juga: Prospek Sawit Sumbermas (SSMS) bisa membaik seiring kenaikan harga jual rata-rata

Sebagai informasi, potensi biomassa untuk listrik dapat bersumber antara lain dari kelapa sawit, tebu, karet, kelapa, sekam padi, jagung, singkong, kayu, limbah ternak dan sampah kota, dengan total potensi di seluruh wilayah Indonesia sebesar 31.654 Mwe.

Kapasitas terpasang PLT Bioenergi saat ini 1.889,8 MW dengan jumlah kapasitas on grid sebesar 206,02 MW dan jumlah kapasitas off grid sebesar 1.683,78 MW.

Terkait dengan biomass co-firing, Febby mengharapkan semua pihak dapat mendorong upaya pemanfaatan biomassa melalui co-firing baik pada pembangkit yang dikelola PLN maupun swasta. Adapun, PLN sudah melakukan trial co-firing pada PLTU miliknya dengan komposisi 1%-5%.

Febby optimistis program biomass co-firing ini akan mampu mendukung optimalisasi pemanfaatan biomassa "Masih ada beberapa hal yang harus dipersiapkan.

Antara lain kebijakan terkait pemanfaatan co-firing pada eksisting PLTU, SNI untuk pellet biomassa dan pelet sampah, kajian komprehensif, insentif dan kebijakan harga, infrastruktur pendukung, serta tata kelola yang mengatur pengusahaan RDF," jelas Febby.

Selain program pengembangan biomassa, Pemerintah juga tengah mengupayakan pelaksanaan program Tungku Sehat Hemat Energi (TSHE). Program ini merupakan kerjasama dengan World Bank yakni clean stove initiative, sebagai TSHE tahap 1.

Baca Juga: Amankan pasokan listrik lebaran, Dirut PJB pastikan 35 pembangkit beroperasi penuh "Tetapi memang dari hasil evaluasi program tersebut ada beberapa masalah, baik dari sisi kebijakan, harga, mekanisme insentif, pasar jual beli yang belum jelas, dan dianggap tidak praktis,” terang Febby.

Ke depan, usulan pelaksanaan program TSHE tahap 2 diharapkan dapat disetujui dengan waktu pelaksanaan tahun 2022 sampai dengan 2030. Program TSHE tahap 2 bertujuan untuk diversifikasi sumber energi terbarukan pada keperluan sehari-hari di sektor Rumah Tangga dan KUKM, melalui pemanfaatan potensi biomasa yang besar sebagai bahan bakar memasak. Sehingga untuk jangka panjang diharapkan mampu mengurangi subsidi bahan bakar LPG yang semakin meningkat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU
Kontan Academy
Data Analysis with Excel Pivot Table Supply Chain Management on Distribution Planning (SCMDP)

[X]
×