kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.553   53,00   0,30%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Mandala akui salah memutuskan jadi low cost carrier


Rabu, 19 Januari 2011 / 20:40 WIB


Reporter: Sofyan Nur Hidayat | Editor: Djumyati P.

JAKARTA. PT Mandala Airlines mengakui telah salah mengambil keputusan untuk berubah dari maskapai penerbangan medium service menjadi Low Cost Carrier (LCC) pada tahun 2006. Akibatnya kinerja Mandala terus mengalami penurunan hingga melakukan penutupan operasi pada tanggal 13 Januari 2011.

Presiden Direktur PT Mandala Airlines Diono Nurjadin mengatakan kendala yang dihadapi dalam mengoperasikan pelayanan LCC adalah dalam persoalan penjualan tiket. Mereka sangat tergantung pada penjualan di agen padahal seharusnya untuk tiket LCC dijual langsung ke calon penumpang atau direct selling. "Penjualan direct selling tidak bisa meningkat meskipun kami telah membuat sistem untuk direct selling yang biayanya mahal," ungkap Diono dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi V DPR RI, Rabu (19/1).

Diono mengatakan sejak saat itu penumpang Mandala mengalami tren penurunan. Hal itu bisa terlihat dari jumlah penumpang mereka yang mencapai 3,5 juta orang pada tahun 2008, 3,5 juta orang pada tahun 2009 dan 2,5 juta pada tahun 2010. Diono mengakui mereka beroperasi dengan kondisi yang merugi.

Selain itu, Diono mengatakan akibat peremajaan pesawat dari sebelumnya Boeing menjadi Airbus pada tahun 2006 menyebabkan biaya operasional semakin tinggi karena biaya sewa yang harus dibayar lebih mahal. "Akibatnya tunggakan ke lessor terus meningkat dan jumlah pesawat terus berkurang karena dikembalikan," jelas Diono.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×