CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.625.000   15.000   0,57%
  • USD/IDR 17.560   31,00   0,18%
  • IDX 6.599   -79,31   -1,19%
  • KOMPAS100 869   -7,99   -0,91%
  • LQ45 657   -7,35   -1,11%
  • ISSI 231   -2,63   -1,12%
  • IDX30 365   -4,43   -1,20%
  • IDXHIDIV20 453   -4,10   -0,90%
  • IDX80 99   -0,88   -0,88%
  • IDXV30 127   -0,47   -0,37%
  • IDXQ30 117   -1,34   -1,14%

Maraknya produk impor murah ancam keberadaan industri teksil lokal


Senin, 14 Juni 2021 / 14:36 WIB
ILUSTRASI. Pemulihan Industri Tekstil: Suasana sentra penjualan tekstil dan garment Cipadu, Tangerang Selatan, Senin (11/5). Maraknya produk impor murah ancam keberadaan industri teksil lokal.


Reporter: Vina Elvira | Editor: Noverius Laoli

Redma berujar, sebenarnya industri TPT masih memiliki peluang untuk menorehkan kinerja yang lebih baik di tahun ini. Hal itu didukung oleh perekonomian dan daya beli masyarakat yang berangsur pulih setelah sempat terkontraksi akibat gempuran pandemi di tahun lalu. 

Namun di sisi lain, industri TPT juga membutuhkan dukungan dari pemerintah untuk segera menertibkan masuknya barang impor murah yang semakin membanjiri pasar domestik, sehingga rata-rata utilisasi industri TPT bisa kembali meningkat hingga penghujung tahun nanti.  

Baca Juga: Tagihan Kreditur Mencapai Rp 20 Triliun, Begini Konsep Restrukturisasi Sritex (SRIL)

"Jika masih tidak bisa menertibkan barang-barang impor ini, maka kondisi industri akan lebih buruk. Perbaikan kinerja industri akan lebih baik jika pemerintah serius menertibkan para importir pedagang," terangnya. 

Hingga saat ini, industri teksil lokal pun masih terus berupaya untuk mendorong konsumsi melalui berbagai strategi, yakni diversifikasi produk dan juga aktivitas product development terintegrasi baik di industri hulu maupun hilir. 

"Pasar ekspor juga masih kita upayakan terus," pungkasnya. 

Selanjutnya: Impor Menyerbu, Tekstil Lokal Terkapar

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×