kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ451.004,87   -6,34   -0.63%
  • EMAS961.000 -0,21%
  • RD.SAHAM -0.06%
  • RD.CAMPURAN -0.04%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.32%

Pemerintah sebut nuklir dapat menjadi opsi sumber energi masa depan


Kamis, 19 November 2020 / 11:20 WIB
Pemerintah sebut nuklir dapat menjadi opsi sumber energi masa depan
ILUSTRASI. Pembangkit listrik tenaga nuklir. REUTERS/Arnd Wiegmann


Reporter: Dimas Andi | Editor: Handoyo .

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perkembangan tren energi global menuntut negara-negara di dunia termasuk Indonesia untuk dapat melaksanakan transformasi energi. Dalam upaya adaptasi terhadap transformasi energi tersebut, Indonesia memprioritaskan akselerasi pengembangan energi bersih berbasis energi baru dan energi terbarukan (EBT).

Melihat perkembangan teknologi EBT yang sangat cepat dan semakin kompetitif dengan energi fosil, pemerintah meyakini bahwa transisi energi perlu dilakukan secara komprehensif.

Menurut Direktur Aneka Energi Baru dan Energi Terbarukan Kementerian ESDM Harris Yahya, hal yang mendorong transformasi energi antara lain perubahan iklim, peningkatan kesejahteraan, keadilan energi, tren biaya EBT yang terus menurun, upaya peningkatan kualitas udara, dan peningkatan ketahanan energi.

“Dalam proses transformasi ini, Indonesia terus berupaya untuk mengakselerasi pengembangan EBT agar target 23% EBT dalam bauran energi nasional tahun 2025 tercapai,” ungkap dia dalam siaran pers di situs Ditjen EBTKE Kementerian ESDM, Rabu (18/11).

Harris menuturkan, rencana penambahan pembangkit listrik tenaga (PLT) EBT sampai dengan tahun 2035 ditargetkan mencapai 37,30 gigawatt (GW).

Strategi pengembangan EBT yang akan dilakukan pemerintah antara lain implementasi Peraturan Presiden tentang Harga PLT EBT, pengembangan Renewable Energy Based Indusrial Development (REBID) melalui Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) skala besar yang terintegrasi dengan industri, dan pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) skala besar.

Baca Juga: PLN: Baru 60%, pandemi menghambat penyerapan penyertaan modal negara (PMN)

Ada juga pengembangan Renewable Energy Based Economic Development (REBED) untuk memacu perekonomian wilayah termasuk daerah 3T, pengembangan biomassa melalui kebun/hutan energi, limbah pertanian dan sampah kota, penambahan jaringan transmisi, menjadikan Nusa Tenggara Timur (NTT) sebagai lumbung energi (PLTS), serta peningkatan kualitas data dan informasi panas bumi melalui program eksplorasi panas bumi oleh pemerintah.

Mengacu pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2020-2024, pengembangan energi nuklir juga dipersiapkan menjadi opsi penyediaan listrik di masa depan dan program pengembangannya melibatkan Kemenristek, Kementerian ESDM, dan BATAN.

Harris menyebut, opsi penyediaan listrik untuk masa depan dalam RPJMN salah satunya adalah pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Kalimantan Barat.

“Kemudian ada peningkatan penguasaan teknologi sebagai garda terdepan dalam hal ini aspek teknis tentunya yang dikoordinasikan oleh teman-teman BATAN. Lalu ada juga kerja sama luar negeri dan research power house project,” urai Harris.

Langkah yang sudah tercantum dalam RPJMN 2020-2024 yaitu langkah penelitian, pengembangan, mendorong penguasaan teknologi, membangun kerja sama, melakukan analisis multi kriteria, dan menyusun peta jalan nuklir.

Memang, Harris menyebut bahwa sampai dengan 2024 belum ada pembangunan di sana, tetapi diharapkan bahwa nuklir menjadi salah satu opsi penyedia listrik yang sangat baik di masa depan.

Selanjutnya: Kementerian ESDM: Banyak investor tertarik bangun pembangkit listrik tenaga nuklir

 

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU
Sukses Berkomunikasi dengan Berbagai Gaya Kepribadian Managing Procurement Economies of Scale Batch 7

[X]
×