kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.769.000   -50.000   -1,77%
  • USD/IDR 17.586   33,00   0,19%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Petani jagung Probolinggo gagal panen


Selasa, 23 Desember 2014 / 11:19 WIB
ILUSTRASI. Yuk Cek Harga Motor Yamaha NMax Bekas Tahun Muda, Cukup Rp 20 Jutaan. KONTAN/Baihaki/12/6/2023


Reporter: Yuthi Fatimah | Editor: Yudho Winarto

PROBOLINGGO. Petani jagung Probolinggo mengalami kerugian hingga 90% akibat berbagai macam serangan penyakit tanaman. Salah satu petani Desa Sumur Mati, Kecamatan Sumber Asih, Probolinggo, Purnomo mengatakan, ada tiga masalah yang dihadapi para petani jagung di kawasan Jawa Timur ini, yaitu serangan hama,  penggerek batang, dan bulai.

"Hampir sekitar ribuan hektar ladang jagung di Probolinggo rugi akibat serangan itu," kata Purnomo pada acara media visit di Probolinggo (22/12).

Purnomo bilang, dari setiap serangan ini memiliki tingkat kerugian yang berbeda-beda. Jika jagung terinfeksi gulma maka petani akan rugi 45%, rugi 70% jika terkena hama, dan kerugian yang terbesar sampai 90% akibat penggerek batang.

"Kalau sudah terkena penggerek batang ini ya harus dicabut lalu dibungkus karung kemudian dibakar karena kalau ini tidak segera dilakukan kemungkinan besar akan menular ke yang lain," jelas Purnomo.

Purnomo mengeluhkan, berbagai macam cara telah dilakukan, seperti pemberian pestisida dengan berbagai merek. Namun, tanaman pakan ternak ini masih saja terserang hama, gulma, dan penggerek batang. "Walaupun pada akhirnya panen juga, namun hasilnya tidak maksimal," ujar Purnomo.

Petani lainnya, Suparman mengatakan, masalah ini harus segera diatasi karena jagung merupakan sumber utama penghasilan para petani di Probolinggo. "Kami tidak bisa mengganti tanaman lain karena jagung ini sudah menjadi tanaman khas di Probolinggo seperti halnya tembakau," tegas Suparman.

Para petani setempat berharap agar bioteknologi yang telah dikembangkan di Indonesia segera diterapkan. Supaya petani tidak rugi dan terus meningkatkan produksi jagung di Indonesia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×