kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.922.000   20.000   0,69%
  • USD/IDR 17.021   8,00   0,05%
  • IDX 7.027   -157,66   -2,19%
  • KOMPAS100 971   -21,90   -2,21%
  • LQ45 715   -12,21   -1,68%
  • ISSI 251   -5,90   -2,30%
  • IDX30 389   -4,63   -1,18%
  • IDXHIDIV20 483   -4,52   -0,93%
  • IDX80 109   -2,25   -2,01%
  • IDXV30 133   -1,42   -1,05%
  • IDXQ30 127   -1,23   -0,96%

Petani tak setuju adanya penurunan HET beras


Rabu, 30 Mei 2018 / 17:48 WIB
ILUSTRASI. Pekerja mengangkut beras di Pasar Induk Beras Cipinang


Reporter: Lidya Yuniartha | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Perdagangan (Kemdag) berencana menurunkan harga eceran tertinggi (HET) beras di sejumlah wilayah di Indonesia bagian barat.

Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Winarno Tohir pun menolak adanya penurunan HET ini. Pasalnya, dengan adanya penurunan HET maka akan merugikan petani karena harga gabah akan turut-menurun.

“Dengan penurunan HET, harga gabah akan ikut turun dan mengurangi semangat bertanam,” ujar Winarno kepada Kontan.co.id, Rabu (30/5).

Menurut Winarno, seharusnya kebijakan yang ditetapkan pemerintah adalah Harga Pembelian Pemerintah (HPP). Pasalnya, HPP yang diatur dalam Inpres No. 5 tahun 2015 belum pernah diubah.

“HPP seharusnya naik, dan HET tidak turun, bahkan seharusnya dinaikkan. Memang ada fleksibilitas, namun kan itu tidak ditetapkan dalam Inpres,” ujar Winarno.

Winarno pun membeberkan saat ini harga gabah kering giling sudah berkisar Rp 4.800 per kg.

Sementara itu, Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemdag Tjahya Widayanti menjelaskan, rencana penurunan HET ini masih akan dibahas oleh Kemdag.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×