Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Philips menggandeng mitra lokal untuk mengembangkan manufaktur alat kesehatan (alkes) di Indonesia. Kali ini, Philips menjalin kerja sama dengan Panasonic Healthcare (PHC) Indonesia dan Graha Teknomedika (GTM).
Philips bersama PHC Indonesia dan GTM akan memproduksi alkes ultrasound dan patient monitor di dalam negeri. Penandatanganan nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) telah berlangsung pada Senin (26/1/2026).
Presiden Direktur Philips Indonesia, Astri Ramayanti Dharmawan mengungkapkan kerja sama ini akan mengeksplorasi produksi alkes di dalam negeri dengan mencapai Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) sebesar 40%. Astri menegaskan bahwa Philips, PHC Indonesia dan GTM akan segera menindaklanjuti MoU ini, dengan menargetkan produksi bisa terealisasi pada semester I-2026.
Hanya saja, Astri belum merinci target produksi ultrasound dan patient monitor yang akan dihasilkan dari kerja sama ini. "Kami sudah ada gambaran, tapi saat ini belum bisa disclose seberapa besar. Tapi sebanyak mungkin, kalau memungkinkan kami akan melakukan produksi untuk lokal, (target pasar) bukan hanya pembelian pemerintah tapi juga untuk swasta," terang Astri setelah seremoni penandatanganan MoU pada Senin (26/1/2026).
Baca Juga: Impor Alat Kesehatan Masih Tinggi, Pemerintah - Pengusaha Ingin Memacu Produksi Lokal
Pada kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan, Lucia Rizka Andalusia mengapresiasi kerja sama ini. Pemerintah mendorong perusahaan multi-nasional untuk mengembangkan industri alkes teknologi tinggi di Indonesia, terutama melalui kerja sama dengan perusahaan lokal agar terjadi transfer teknologi.
Saat ini, porsi impor alkes masih dominan, terutama untuk produk alkes berteknologi tinggi. Lucia menggambarkan bahwa porsi impor alkes berteknologi tinggi saat ini mencapai 80%. Sebaliknya, sekitar 80% alkes kategori teknologi menengah - rendah sudah bisa diproduksi di dalam negeri.
Tak hanya dari sisi nilai investasi, Lucia menegaskan bahwa produksi alkes di dalam negeri penting untuk mencapai kemandirian di sektor kesehatan. "Kita ingin mencapai kemandirian, bukan hanya produk berteknologi rendah saja yang bisa kita produksi, tapi juga teknologi tinggi," kata Lucia.
Di sisi lain, Lucia mengharapkan produksi alkes di dalam negeri bisa membuat harga produk menjadi lebih terjangkau. Sedangkan secara industri, produksi alkes di Indonesia akan menggerakkan sektor industri lainnya, serta penyerapan tenaga kerja yang cukup signifikan.
"Misalnya kalau dia (perusahaan) jualan saja, paling cuman 10 orang di kantor, tapi kalau dia produksi, bisa 100 orang yang harus bekerja. Jadi trickle down-nya bisa meningkatkan sumber daya manusia di situ," imbuh Lucia.
Secara bisnis, pasar dan industri alkes di Indonesia memiliki prospek yang cukup menarik. Lucia menggambarkan bahwa pertumbuhan pasar alkes di Indonesia mencapai Compound Annual Growth Rate (CAGR) sekitar 12%.
Baca Juga: Industri Alkes Belum Rasakan Dampak Kenaikan PMI Manufaktur
Laju pertumbuhan pasar alkes bisa lebih tinggi dengan dorongan dari program pemerintah seperti peningkatan 66 Rumah Sakit (RS) daerah kelas D menjadi kelas C, serta program cek kesehatan gratis. Program tersebut memerlukan ketersediaan alkes yang memadai, termasuk alkes berteknologi tinggi seperti CT Scan, Magnetic Resonance Imaging (MRI) dan Cath Lab.
"Pertumbuhan pasar (CAGR) sekitar 12%. Tapi akan terus bertambah. Kita sedang membangun 66 rumah sakit, meningkatkan dari tipe D ke tipe C. Artinya, kompetensi dari RS harus meningkat, yang pasti diimbangi dengan ketersediaan infrastruktur dan alkes yang memadai," ungkap Lucia.
Deputi Bidang Promosi Penanaman Modal Kementerian Investasi dan Hilirisasi / Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Nurul Ichwan menegaskan pihaknya siap memberikan pendampingan dan memfasilitasi investasi industri alkes. Ichwan memastikan pemerintah mendukung perusahaan untuk memenuhi TKDN, sehingga alkes berteknologi tinggi bisa tersedia secara berkelanjutan.
"Kami sangat mendorong perusahaan untuk memenuhi TKDN, sehingga resiliensi dan sustainability alat berteknologi tinggi bisa tersedia dengan baik. Nanti harapannya lebih banyak pasien yang percaya dengan pelayanan-pelayanan kesehatan yang ada di dalam negeri, dibandingkan menggembar-gemborkan keunggulan teknologi yang ada di luar negeri," tandas Ichwan.
Baca Juga: Tempat Tidur Rumah Sakit Bermerek dari Ceko, Kini Diproduksi Pabrikan Lokal
Selanjutnya: Akulaku Menilai Pembiayaan Multiguna Berpotensi Jadi Penopang Industri Pembiayaan
Menarik Dibaca: Nasib Usaha di Ujung Tanduk? Campur Uang Pribadi dan Bisnis Bisa Picu Kerugian Lo
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













