kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.765.000   -24.000   -0,86%
  • USD/IDR 17.676   -60,00   -0,34%
  • IDX 6.319   -52,18   -0,82%
  • KOMPAS100 832   -10,94   -1,30%
  • LQ45 631   -4,14   -0,65%
  • ISSI 225   -2,77   -1,22%
  • IDX30 360   -1,39   -0,38%
  • IDXHIDIV20 449   1,48   0,33%
  • IDX80 96   -1,08   -1,12%
  • IDXV30 124   -0,84   -0,68%
  • IDXQ30 118   0,53   0,46%

HIMKI: Rupiah Melemah Belum Tentu Dongkrak Ekspor Mebel dan Kerajinan


Rabu, 20 Mei 2026 / 22:08 WIB
HIMKI: Rupiah Melemah Belum Tentu Dongkrak Ekspor Mebel dan Kerajinan
ILUSTRASI. Pameran Mebel ICE BSD, Tangerang (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Zendy Pradana | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) menilai, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS belum tentu otomatis mendorong peningkatan ekspor produk Indonesia, khususnya di sektor mebel dan kerajinan.

Ketua Umum HIMKI Abdul Sobur mengatakan bahwa meskipun secara teori rupiah yang melemah dapat membuat harga produk ekspor Indonesia lebih kompetitif, kondisi pasar global saat ini masih penuh tekanan.

Baca Juga: Danantara Kantongi Calon Bos DSI, Skema Ekspor SDA Masuk Fase Baru September 2026

Menurutnya, para buyer internasional kini cenderung berhati-hati dalam melakukan pembelian karena dipengaruhi situasi ekonomi global, ketegangan geopolitik, tingginya suku bunga, hingga melemahnya daya beli di pasar tujuan ekspor.

“Produk ekspor Indonesia belum tentu otomatis meningkat meski nilai tukar rupiah ke dolar sedang berada di titik terendahnya,” ujar Abdul Sobur kepada Kontan.co.id, Rabu (20/5/2026).

Ia menjelaskan, untuk sektor mebel dan kerajinan, pertumbuhan permintaan ekspor sangat bergantung pada kemampuan pelaku industri dalam membuka pasar dan menjaring buyer baru di berbagai kawasan strategis.

Baca Juga: HIMKI: Rupiah Melemah Bisa Jadi Peluang Ekspor, Tapi Bukan Satu-satunya Faktor

“Untuk sektor mebel dan kerajinan, permintaan akan sangat tergantung pada kemampuan kita membuka buyer baru, memperkuat pasar AS, Eropa, Timur Tengah, dan Asia, serta memperbaiki efektivitas pameran seperti IFEX agar tidak hanya menjadi etalase, tetapi benar-benar menghasilkan transaksi,” jelasnya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor Indonesia pada periode Januari–Maret 2026 tercatat mencapai US$66,85 miliar atau naik tipis 0,34% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Namun, ekspor Maret 2026 justru turun 3,10% secara tahunan (year on year/YoY).

Abdul menyebut kondisi tersebut menunjukkan bahwa aktivitas perdagangan global masih berjalan, tetapi belum dapat dikategorikan mengalami lonjakan signifikan.

Lebih lanjut, HIMKI menilai pelemahan rupiah bukan semata-mata kabar baik bagi eksportir. Di balik peluang peningkatan daya saing harga, terdapat berbagai risiko yang harus diantisipasi pelaku industri.

Baca Juga: PHRI Waspadai Dampak Geopolitik dan Harga Tiket Pesawat terhadap Pariwisata 2026

“Yang dibutuhkan industri saat ini adalah stabilitas kurs, kepastian regulasi, pembiayaan ekspor yang kompetitif, efisiensi logistik, dan dukungan konkret untuk membuka pasar baru. Dengan itu, pelemahan rupiah bisa menjadi momentum, bukan sekadar tekanan,” tutur Abdul.

Ia menambahkan, penguatan daya saing industri nasional tetap harus bertumpu pada produktivitas, kualitas produk, efisiensi biaya, serta keberlanjutan pasokan agar mampu bersaing di pasar global dalam jangka panjang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×