Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tekanan terhadap sektor manufaktur Indonesia dinilai mulai menunjukkan gejala yang lebih struktural, bukan sekadar perlambatan siklus jangka pendek.
Pelemahan Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia ke level 49,1 pada April 2026 mencerminkan tekanan berat dari kenaikan biaya produksi dan gangguan pasokan bahan baku di tengah gejolak global.
Ekonom Center of Reform on Economics Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai, berbeda dengan periode sebelumnya yang lebih dipicu pelemahan permintaan ekspor, kontraksi manufaktur kali ini justru berasal dari sisi produksi.
“Problem utamanya bukan karena order hilang total, melainkan karena industri makin sulit menjalankan produksi secara normal akibat biaya input yang naik dan pasokan yang terganggu,” ujar Yusuf kepada Kontan, Minggu (10/5/2026).
Baca Juga: Apindo Ingatkan Penyerapan Tenaga Kerja Lebih Penting dari Sekadar Angka PHK
Menurut dia, kondisi tersebut terlihat dari pesanan baru yang masih tumbuh tipis, tetapi volume produksi justru turun cukup dalam. Tekanan biaya juga mulai diteruskan ke harga jual produk industri.
Yusuf mencatat, laju kenaikan harga output industri saat ini menjadi yang tertinggi dalam lebih dari satu dekade. Hal itu menunjukkan tekanan yang awalnya terjadi di tingkat produsen mulai mengalir ke konsumen.
“Industri sedang berada dalam posisi terjepit. Di satu sisi biaya naik, di sisi lain permintaan domestik belum cukup kuat untuk menyerap kenaikan harga secara penuh,” katanya.
Ia menilai, kontraksi PMI pada awal kuartal II patut diwaspadai karena biasanya periode pasca-Lebaran masih memberikan dorongan musiman bagi aktivitas manufaktur.
Selain itu, perusahaan mulai mengurangi tenaga kerja dengan laju lebih cepat sebagai bentuk penyesuaian biaya.
Yusuf mengingatkan kenaikan pesanan baru saat ini berpotensi hanya bersifat sementara atau front-loading, yakni pembeli mempercepat order karena khawatir harga bahan baku dan gangguan pasokan memburuk.
“Kalau situasi global tidak membaik, terutama terkait konflik Timur Tengah dan harga energi, permintaan itu bisa cepat menghilang di bulan berikutnya,” ungkapnya.
Baca Juga: Mitsubishi Pede Kebutuhan Kendaraan Diesel Masih Kuat usai Harga BBM Dexlite Melonjak
Meski belum melihat PMI 49,1 sebagai alarm krisis, Yusuf menilai angka tersebut merupakan early warning yang cukup serius karena membuka kelemahan mendasar industri manufaktur nasional, terutama tingginya ketergantungan terhadap bahan baku impor dan lemahnya industri hulu domestik.
Untuk jangka pendek, ia menyarankan pemerintah fokus menjaga stabilitas biaya produksi melalui diversifikasi sumber impor bahan baku, relaksasi fiskal, percepatan restitusi PPN, hingga menjaga harga energi domestik agar tidak melonjak.
Sementara dalam jangka panjang, Yusuf menilai penguatan industri hulu seperti petrokimia, kimia dasar, baja, dan logam menjadi langkah penting untuk mengurangi sensitivitas manufaktur terhadap gejolak eksternal.
“Kalau pasar dalam negeri kuat, manufaktur punya bantalan ketika ekspor sedang melemah atau biaya global naik,” tandasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
- industri manufaktur
- inflasi
- sektor industri
- kebijakan fiskal
- Ekonomi Indonesia
- biaya produksi
- PMI Manufaktur Indonesia
- Harga Energi
- Pasokan Bahan Baku
- Gejolak global
- Indeks Manufaktur April 2026
- Biaya Produksi Manufaktur
- Harga Output Industri
- Gangguan Pasokan Bahan Baku
- Ekonomi Manufaktur Indonesia
- Sektor Manufaktur Terjepit
- Ketergantungan Bahan Baku Impor
- Industri Hulu Domestik
- Ancaman PHK Manufaktur
- Inflasi Manufaktur
- Gejolak Global Ekonomi













