Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Timah Tbk (TINS) mulai serius mengembangkan potensi logam tanah jarang atau rare earth mineral yang berada di wilayah izin usaha pertambangan (IUP) milik perseroan.
Saat ini, PT Timah masih memetakan cadangan sekaligus mencari mitra teknologi untuk mengolah komoditas tersebut.
Direktur Corporate Strategy & Business Development PT Timah Harry Budi Sidharta mengatakan, perusahaan masih berada pada tahap riset dan pengembangan. PT Timah juga tengah menjajaki kerja sama dengan sejumlah mitra strategis untuk menyiapkan teknologi pengolahan logam tanah jarang.
Baca Juga: Badan Industri Mineral: Indonesia Butuh Ekosistem Logam Tanah Jarang, Ini Alasannya
"PT Timah saat ini masih dalam proses riset dan pengembangan terkait dengan pengolahan tanah jarang ini. Jadi strategi kami adalah mencari partner teknologi yang akan bersama PT Timah untuk mengelola logam tanah jarang ini," ujar Harry dalam paparan publik LIVE, Kamis (10/9/2026).
PT Timah memiliki IUP di wilayah darat dan lepas pantai Bangka, Belitung, serta Pulau Kundur dengan total luas mencapai 473.310 hektare. Potensi logam tanah jarang di wilayah tersebut kini tengah dipetakan untuk mengetahui besaran cadangannya.
Menurut Harry, setidaknya ada tiga calon mitra yang saat ini dalam tahap penjajakan. Proses tersebut sekaligus mencakup pemetaan potensi cadangan logam tanah jarang di wilayah Bangka Belitung.
"Beberapa partner kami, kurang lebih ada tiga partner sekarang yang dalam proses penjajakan. Itu termasuk dalam pemetaan jumlah cadangan tanah jarang yang ada di Bangka Belitung," ujarnya.
Baca Juga: ENSIA 2026 Soroti Transisi Energi dan Peluang Ekonomi Hijau
Setelah pemetaan cadangan rampung, PT Timah akan menentukan teknologi pengolahan yang paling sesuai. Perseroan selanjutnya akan menghitung kebutuhan belanja modal atau capital expenditure (capex) yang diperlukan bersama mitra strategis.
Harry menargetkan proses penjajakan mitra dapat mengerucut pada tahun ini. "Bersama-sama kita memastikan nanti mungkin di tahun 2026 ini sudah ada mengerucut kepada partner yang akan ditunjuk sebagai partner pengelola tanah jarang," kata dia.
Meski demikian, PT Timah belum akan langsung memonetisasi potensi logam tanah jarang tersebut. Perseroan masih harus menyelesaikan sejumlah tahapan, mulai dari riset, validasi cadangan, penentuan teknologi hingga kesepakatan kebutuhan capex dengan mitra.
"Monetisasi tentunya akan terkait dengan tanah jarang ini akan dilakukan setelah proses riset, kemudian validasi cadangan, kemudian teknologi dan capex yang disepakati bersama dengan partner," ujarnya.
"Dan setelah itu buat kita bisa berbicara terkait dengan monetisasi," lanjut Harry.
Baca Juga: Henkel Perkenalkan Produk Teknologi Perlindungan Infrastruktur di IEE Series 2026
Dalam menyusun rencana investasi, PT Timah akan mengacu pada harga jual logam tanah jarang berdasarkan indeks yang dipublikasikan secara publik di luar negeri.
Di sisi lain, perseroan juga terus berkoordinasi dengan PT Pertamina Mineral Industri (Perminas) dan Badan Investasi Mineral dalam pengembangan logam tanah jarang.
"Kami terus bekerja sama dengan Perminas dan Badan Investasi Mineral yang memang dimandatkan oleh pemerintah untuk mengelola tanah jarang ini," ucapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














