Penulis: Chelsea Anastasia | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Petani tebu menilai kebijakan implementasi bahan bakar bensin dengan campuran etanol 10% (E10) hingga etanol 20% (E20) ke depan masih diwarnai tantangan.
Asal tahu saja, bahan baku tebu merupakan salah satu sumber untuk produksi bioetanol melalui pemanfaatan tetes tebu atau molasses.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menyebutkan pemerintah telah menunjukkan kesiapan untuk menuju implementasi E10.
"Kita bisa sampai E20. Butuh pabrik. Tadi pabriknya yang baru kita miliki baru satu pabrik. Tadi saya putuskan kita akan bangun minimal 30 pabrik. Kalau perlu sampai 50 pabrik,” katanya dalam Panen Raya Serentak bersama TNI, Jumat (17/7/2026) kemarin.
Menanggapi hal ini, Ketua Umum Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Soemitro Samadikoen memaparkan, dari sisi stok bahan baku, industri tebu berpeluang mencukupi dalam mendukung program bioetanol ini.
Baca Juga: PTPN I Genjot Hilirisasi Tebu Jadi Bioetanol, Kapasitas Produksi 100 Kiloliter/Hari
Ia memperinci produksi tebu nasional pada 2025 mencapai sekitar 38 juta ton. Dengan asumsi molasses yang dihasilkan sekitar 5% dari produksi tebu, maka potensi molasses nasional mencapai sekitar 1,9 juta ton.
"Kalau seluruh molasses tersebut dibuat bioetanol, maka 1,9 juta ini potensinya sekitar 425 ribu kiloliter," ujar Soemitro kepada Kontan, Minggu (19/7/2026).
Pun, apabila produksi tebu meningkat ke level 40 juta ton, potensi produksi bioetanol dari molasses dapat mencapai kisaran 500 ribu kiloliter.
Namun, petani tebu menilai harga molasses yang ditawarkan Pertamina masih berada di bawah harga pasar.
Soemitro membeberkan, harga molasses yang ditawarkan Pertamina dalam beberapa pembahasan masih berada di bawah Rp 1.000 per kilogram (kg). Sementara itu, harga molasses di pasar saat ini berada di kisaran Rp 1.600 per kilogram (kg).
Baca Juga: Program Bongkar Ratoon Dinilai Dongkrak Produksi Tebu dan Pasokan Industri Gula
"Yang menjadi kekhawatiran kami, jangan sampai atas nama cinta negara dan semangat swasembada energi, molasses petani harus dijual dengan harga keekonomian Pertamina, bukan harga keekonomian petani," ujarnya.
Apalagi, di tengah kondisi harga gula yang masih dalam tren penurunan, Soemitro mencermati molasses merupakan sumber pendapatan kedua yang juga diandalkan petani tebu.
Dus, apabila harga molasses juga tak memberikan insentif yang mencukupi, upaya peningkatan produktivitas tebu nasional juga dinilai akan terus terhambat.
"Jadi kalau begitu, bagaimana mau serempak menaikkan produktivitas kita? Padahal kalau kita mau betul-betul swasembada, produksi tebu kita harus naik," tutur Soemitro.
Baca Juga: Dongkrak Produksi Nasional, Kementan Perdana Sebarkan Benih Unggul Tebu Asal KBD
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_24062609492500.jpg)
