kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.614.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.940   -67,00   -0,37%
  • IDX 6.176   67,33   1,10%
  • KOMPAS100 814   12,72   1,59%
  • LQ45 622   13,33   2,19%
  • ISSI 212   0,39   0,18%
  • IDX30 351   8,04   2,34%
  • IDXHIDIV20 438   9,47   2,21%
  • IDX80 93   1,54   1,68%
  • IDXV30 117   0,44   0,38%
  • IDXQ30 113   2,94   2,65%

Selat Hormuz Ditutup Lagi, Biaya Transportasi hingga Biaya Produksi Bisa Terkerek


Minggu, 19 Juli 2026 / 14:47 WIB
Selat Hormuz Ditutup Lagi, Biaya Transportasi hingga Biaya Produksi Bisa Terkerek
ILUSTRASI. Selat Hormuz (REUTERS/Stringer)


Reporter: Arif Ferdianto | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penutupan kembali Selat Hormuz oleh Teheran serta ancaman gangguan di Laut Merah diproyeksikan bakal memberikan tekanan bagi perekonomian. 

Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menilai bahwa pemblokiran jalur pelayaran minyak global tersebut akan memicu efek domino yang sangat signifikan.

Wakil Ketua Bidang Kebijakan Publik Apindo, Chandra Wahjudi menyatakan, eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah tersebut memicu lonjakan harga energi di pasar global secara instan. Kondisi itu otomatis akan menekan struktur biaya operasional banyak negara di dunia, termasuk bagi Indonesia sendiri.

Baca Juga: Selat Hormuz Kembali Ditutup, Kadin Minta Pemerintah Siapkan Mitigasi Rantai Pasok

"Dampak penutupan Selat Hormuz dan potensi gangguan di Laut Merah akan langsung menekan banyak negara termasuk Indonesia karena sebagian besar kebutuhan energi dan banyak komoditas pangan impor bergantung pada jalur pelayaran global," ujarnya kepada Kontan, Minggu (19/7/2026).

Chandra mengungkapkan, jika pasokan minyak dari kawasan Teluk terus tertahan, harga minyak dunia dapat melambung tinggi melampaui target yang ditetapkan pemerintah. Efek lanjutannya adalah kenaikan harga energi yang mendorong biaya transportasi, distribusi, serta biaya produksi industri nasional.

"Jika pasokan minyak dari Teluk tertahan, harga minyak dunia bisa melonjak jauh di atas asumsi APBN, memicu kenaikan harga BBM domestik dan memperberat beban fiskal. Efek berantai dari kenaikan harga energi akan mendorong biaya transportasi, distribusi, dan produksi," jelasnya.

Atas dasar kenaikan biaya transportasi tersebut, lanjut Chandra, harga pangan juga berpotensi ikut terkerek. "Sehingga harga pangan terutama gandum, kedelai, dan jagung pakan berpotensi naik signifikan," tandasnya.

Lebih lanjut, Chandra menambahkan, demi menghadapi skenario terburuk apabila jalur pelayaran komersial terputus total, Apindo menyarankan beberapa mitigas yang bisa diambil pemerintah. "Langkah darurat yang mungkin ditempuh Indonesia mencakup optimalisasi cadangan BBM nasional, diversifikasi sumber impor dari Amerika Latin atau Afrika Barat, serta koordinasi regional untuk stabilisasi pasokan," pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×