kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.738.000   0   0,00%
  • USD/IDR 18.046   -27,00   -0,15%
  • IDX 5.595   -245,02   -4,20%
  • KOMPAS100 736   -35,18   -4,56%
  • LQ45 558   -23,17   -3,99%
  • ISSI 195   -8,81   -4,33%
  • IDX30 316   -12,58   -3,83%
  • IDXHIDIV20 392   -14,84   -3,65%
  • IDX80 84   -3,56   -4,08%
  • IDXV30 107   -4,76   -4,28%
  • IDXQ30 102   -3,95   -3,72%

Rupiah Tertekan, Aprisindo Pilih Wait and See Sambil Menahan PHK


Minggu, 07 Juni 2026 / 23:09 WIB
Rupiah Tertekan, Aprisindo Pilih Wait and See Sambil Menahan PHK
ILUSTRASI. Sentra produksi sepatu di Ciomas, Bogor, Jawa Barat (KONTAN/Muradi)


Reporter: Zendy Pradana | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mulai menambah tekanan bagi industri padat karya, termasuk sektor alas kaki.

Kenaikan biaya impor bahan baku akibat depresiasi rupiah dikhawatirkan berdampak pada keberlangsungan usaha dan kondisi tenaga kerja apabila berlangsung dalam jangka panjang.

Baca Juga: Rupiah Melemah ke Rp 18.000, Pelaku Industri Mulai Hitung Risiko Inflasi

Sekretaris Jenderal Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Yoseph Billie Dosiwoda mengatakan, tantangan terbesar yang dihadapi industri saat ini adalah melonjaknya biaya pembelian bahan baku impor yang diperkirakan meningkat sekitar 30%-40%.

Menurutnya, pelemahan rupiah yang berada di level terendah dalam beberapa tahun terakhir membuat biaya produksi semakin tinggi, sementara pelaku industri masih berupaya menjaga stabilitas operasional dan menghindari pemutusan hubungan kerja (PHK).

"Kenaikan dolar mempengaruhi daya beli masyarakat dan kondisi buruh di tengah situasi ekonomi saat ini. Kami masih berupaya menghindari PHK dan memilih bersikap wait and see dalam dua hingga tiga bulan ke depan," ujar Billie kepada Kontan.co.id, Minggu (7/6/2026).

Baca Juga: Rupiah ke Rp18.000, Ikappi: Belum Berdampak ke Pasar, tapi Harga Bawang Merah Melejit

Ia berharap permintaan ekspor dari pasar utama seperti Amerika Serikat dan Eropa tetap terjaga.

Menurutnya, penurunan permintaan akibat kebijakan tarif atau perlambatan ekonomi di negara tujuan ekspor dapat memberikan tekanan yang lebih besar terhadap industri alas kaki nasional.

"Yang penting permintaan ekspor tidak turun, baik ke pasar AS maupun Eropa. Jika permintaan melemah, itu akan mengganggu proses produksi," katanya.

Di tengah tekanan nilai tukar, sejumlah pelaku industri telah melakukan lindung nilai (hedging) untuk mengurangi risiko fluktuasi kurs dan menjaga harga jual produk tetap kompetitif.

Baca Juga: KKP Percepat Pembangunan K-SIGN Rote Ndao untuk Kejar Swasembada Garam 2027

Meski demikian, Billie menilai efektivitas strategi tersebut memiliki keterbatasan karena harga jual produk ekspor pada umumnya ditentukan oleh pembeli (buyer), sehingga ruang penyesuaian harga bagi produsen relatif terbatas.

"Tekanan terbesar saat ini berasal dari pembelian bahan baku impor dan kondisi pasar domestik. Kami berharap permintaan dari buyer ekspor tetap terjaga sehingga produksi dapat terus berjalan," tutupnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×