kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.819.000   -17.000   -0,93%
  • USD/IDR 16.565   165,00   0,99%
  • IDX 6.511   38,26   0,59%
  • KOMPAS100 929   5,57   0,60%
  • LQ45 735   3,38   0,46%
  • ISSI 201   1,06   0,53%
  • IDX30 387   1,61   0,42%
  • IDXHIDIV20 468   2,62   0,56%
  • IDX80 105   0,58   0,56%
  • IDXV30 111   0,69   0,62%
  • IDXQ30 127   0,73   0,58%

Selain divestasi tol, Waskita Karya (WSKT) disarankan diversifikasi produk dan pasar


Senin, 08 November 2021 / 18:59 WIB
Selain divestasi tol, Waskita Karya (WSKT) disarankan diversifikasi produk dan pasar
ILUSTRASI. Pembangunan jalan tol Waskita Karya (WSKT)


Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Waskita Karya Tbk (WSKT) meneruskan divestasi jalan tol sebagai upaya mengurangi beban utang dan menyehatkan kinerja keuangan. Emiten plat merah ini pun berencana untuk melepas aset jalan tol hingga tahun 2025.

Pengamat BUMN dari FEB Universitas Indonesia Toto Pranoto mengatakan, jika melihat kondisi Waskita Karya saat ini, asset recycling berupa divestasi jalan tol memang mendesak untuk dilakukan. Kendati begitu, Toto memberikan sejumlah catatan agar kondisi bisnis dan keuangan WSKT bisa pulih secara berkelanjutan.

Dalam hal ini, Toto merunut bahwa dalam kurun 7 tahun - 8 tahun belakangan, WSKT tidak lagi hanya sebagai kontraktor, melainkan telah bertransformasi menjadi perusahaan investasi. Dengan konsep ini, WSKT melakukan langkah agresif melakukan banyak investasi dalam pembangunan jalan tol.

"Tujuannya supaya setelah selesai pembangunan ruas jalan tol,maka bisa dilakukan divestasi. Margin dari model bisnis ini dianggap lebih tinggi dibandingkan WSKT hanya sekedar menjadi kontraktor saja," kata Toto saat dihubungi Kontan.co.id, Senin (8/11).

Baca Juga: Waskita Karya (WSKT) divestasi seluruh aset tol pada 2025

Masalahnya, proses divestasi ini tak berjalan mulus. Khususnya lantaran kondisi ekonomi dan bisnis juga ikut ambruk dilanda pandemi. Akibatnya, investor relatif tak agresif untuk menyerap divestasi aset jalan tol.

Di sisi lain, sebagian besar belanja modal atau investasi untuk membangun jalan tol dibiayai dengan instrumen utang, yang mana bunga serta pokok jatuh tempo harus dibayar. Dari segi bisnis, kinerja WSKT pun ikut terdampak pandemi.

"Maka semakin berat saja pengelolaan keuangan di korporasi ini. Revenue bisa turun sampai dengan 80%, sementara penurunan delta biaya tidak bisa sebesar itu (terdampak pandemi). Jadi divestasi adalah langkah prioritas yang harus dikerjakan supaya bisa mengurangi tekanan keuangan di WSKT," jelas Toto.

Dalam divestasi jalan tol ini, Toto berharap agar Lembaga Pengelola Investasi (LPI)/Indonesia Investment Authority (INA) bisa menunjukkan perannya. Di sisi lain, Toto menekankan bahwa ke depan WSKT perlu memiliki struktur financing yang lebih seimbang, yang mana unsur equity bisa lebih diperbesar.

"Rencana LPI masuk sebagai investor di sektor infrastruktur patut disambut dengan baik," kata Toto.

 


Survei KG Media

TERBARU
Kontan Academy
Supply Chain Management on Procurement Economies of Scale (SCMPES) Brush and Beyond

[X]
×