kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.673.000   -30.000   -1,11%
  • USD/IDR 17.822   -47,00   -0,26%
  • IDX 6.177   4,80   0,08%
  • KOMPAS100 808   -9,54   -1,17%
  • LQ45 609   -7,52   -1,22%
  • ISSI 213   1,66   0,79%
  • IDX30 345   -4,23   -1,21%
  • IDXHIDIV20 421   -5,17   -1,21%
  • IDX80 92   -1,32   -1,42%
  • IDXV30 113   -1,72   -1,50%
  • IDXQ30 110   -1,54   -1,38%

Selat Hormuz Dibuka, Industri Tekstil Prediksi Harga Bahan Baku Normal dalam 6 Bulan


Jumat, 19 Juni 2026 / 18:23 WIB
Selat Hormuz Dibuka, Industri Tekstil Prediksi Harga Bahan Baku Normal dalam 6 Bulan
ILUSTRASI. Pembukaan Selat Hormuz tak langsung redakan tekanan biaya. Rupiah lemah dan permintaan lesu jadi tantangan manufaktur. (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pembukaan kembali Selat Hormuz belum memberikan dampak signifikan terhadap industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional. Pelaku usaha memperkirakan harga bahan baku masih membutuhkan waktu setidaknya enam bulan untuk kembali ke level normal seperti sebelum konflik di Timur Tengah.

Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI), Redma Gita Wirawasta, mengatakan harga bahan baku sebenarnya telah menunjukkan tren penurunan bahkan sebelum Selat Hormuz kembali dibuka. Namun, level harga saat ini masih berada di atas kondisi sebelum perang.

"Belum ada pengaruh signifikan, sebelum Selat Hormuz dibuka juga harga bahan baku sudah turun meski belum pada level sebelum perang," ujar Redma kepada Kontan, Jumat (19/6/2026).

Menurut Redma, proses normalisasi harga bahan baku tidak hanya bergantung pada kelancaran jalur perdagangan energi global, tetapi juga pemulihan fasilitas produksi petrokimia di kawasan Timur Tengah yang terdampak konflik.

Oleh karena itu, pembukaan kembali Selat Hormuz memang dapat membantu memperlancar distribusi minyak dan gas dunia. Meski demikian, dampaknya terhadap harga bahan baku industri diperkirakan tidak akan terjadi secara instan.

Baca Juga: Penumpang Pesawat Naik Saat Libur Sekolah, Harga Tiket Jadi Sulit Turun

"Prakiraan masih butuh waktu minimal enam bulan sebelum harga kembali normal seperti sebelum perang untuk memperbaiki fasilitas-fasilitas produksi petrokimia di Timur Tengah," katanya.

Industri tekstil menjadi salah satu sektor yang paling sensitif terhadap pergerakan harga produk petrokimia. Pasalnya, sebagian besar bahan baku serat sintetis dan benang filamen yang digunakan berasal dari turunan minyak dan gas.

Selat Hormuz Jadi Sentimen Positif bagi Industri Manufaktur

Sementara itu, Wakil Ketua Umum (WKU) Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Bidang Perindustrian Saleh Husin menilai Selat Hormuz merupakan salah satu jalur utama perdagangan minyak dan gas dunia. Dengan kembali normalnya aktivitas di kawasan tersebut, pasokan energi global berpotensi meningkat sehingga harga minyak, ongkos transportasi, dan premi logistik dapat lebih terkendali.

"Pembukaan kembali Selat Hormuz merupakan sentimen positif bagi industri manufaktur nasional karena dapat mengurangi tekanan biaya produksi yang selama beberapa bulan terakhir meningkat akibat lonjakan harga energi dan gangguan rantai pasok global," ujar Saleh kepada Kontan, Jumat (19/6/2026).

Menurut Saleh, kondisi tersebut akan memberikan manfaat bagi sejumlah industri padat energi seperti petrokimia, pupuk, semen, logam dasar, keramik, dan kaca. Selain itu, distribusi bahan baku impor yang dibutuhkan sektor manufaktur juga berpotensi menjadi lebih lancar.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa dampak positif pembukaan kembali Selat Hormuz tidak akan langsung dirasakan oleh pelaku industri. Sebab, proses normalisasi rantai pasok global membutuhkan waktu sebelum tercermin dalam biaya produksi.

Di sisi lain, kinerja manufaktur nasional masih dipengaruhi berbagai faktor eksternal, mulai dari kondisi permintaan global, ketidakpastian perdagangan internasional, hingga persaingan di pasar ekspor.

Karena itu, Saleh menilai pembukaan kembali Selat Hormuz lebih tepat dipandang sebagai katalis positif yang dapat membantu memperbaiki iklim usaha dan meningkatkan optimisme pelaku industri.

"Terutama melalui potensi penurunan biaya energi dan logistik yang selama ini menjadi salah satu sumber tekanan utama bagi sektor manufaktur," imbuhnya.

Pelaku industri pun berharap stabilitas pasokan energi global dan kelancaran rantai pasok dapat terus terjaga guna mendukung daya saing manufaktur nasional di tengah tantangan ekonomi global yang masih berlangsung.

Baca Juga: Wajib Sertifikasi Halal Berlaku Oktober 2026, UMKM Soroti Kendala Biaya

CORE: Pembukaan Selat Hormuz Kurangi Tekanan Biaya, Bukan Solusi Menyeluruh

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, mengatakan gangguan di kawasan Selat Hormuz selama beberapa bulan terakhir telah mendorong kenaikan harga energi sekaligus meningkatkan ketidakpastian rantai pasok global.

Menurutnya, normalisasi jalur pelayaran tersebut berpotensi mengurangi tekanan biaya sehingga pelaku industri memiliki ruang bernapas yang lebih besar. Namun, dampak positifnya diperkirakan tidak akan berlangsung instan karena tantangan manufaktur Indonesia sebagian besar masih bersifat struktural.

"Pembukaan Selat Hormuz lebih tepat dipandang sebagai faktor yang meringankan tekanan biaya, bukan solusi yang mengubah keadaan secara menyeluruh," ujar Yusuf kepada Kontan, Jumat (19/6/2026).

Yusuf menjelaskan sektor yang paling cepat merasakan manfaat adalah industri yang sangat bergantung pada energi dan bahan baku berbasis minyak dan gas, seperti industri petrokimia, plastik, serat sintetis, keramik, kaca, hingga baja.

Stabilitas pasokan energi global berpotensi menurunkan biaya produksi dan memperbaiki margin keuntungan yang sebelumnya tergerus kenaikan harga bahan baku. Namun demikian, transmisi penurunan harga energi ke tingkat industri membutuhkan waktu.

"Penurunan harga minyak dunia biasanya tidak langsung tercermin pada harga bahan baku yang dibeli pabrik, sementara normalisasi rantai pasok global juga berlangsung bertahap," jelasnya.

Pelemahan Rupiah dan Permintaan Lemah Masih Jadi Tantangan

Di sisi lain, Yusuf menilai manfaat dari penurunan harga energi masih dibayangi tekanan nilai tukar rupiah. Sebab, sebagian besar industri manufaktur nasional masih bergantung pada impor bahan baku, komponen, maupun mesin produksi.

Selama nilai tukar rupiah masih berada dalam tekanan, biaya produksi dalam denominasi rupiah tetap tinggi meskipun harga komoditas global mulai mengalami penurunan. Kondisi tersebut membuat peningkatan daya saing industri tidak terjadi secara otomatis.

Baca Juga: CORE: Pembukaan Selat Hormuz Belum Cukup Pulihkan Industri Manufaktur

Menurut Yusuf, hasil akhirnya akan sangat bergantung pada kemampuan penurunan biaya energi dalam mengimbangi kenaikan biaya akibat depresiasi rupiah.

Selain persoalan biaya, tantangan manufaktur juga datang dari sisi permintaan. Tingkat utilisasi di sejumlah sektor masih relatif rendah, yang menunjukkan banyak pabrik belum beroperasi pada kapasitas optimal.

Kondisi tersebut mencerminkan bahwa persoalan manufaktur tidak hanya berkaitan dengan mahalnya energi, tetapi juga lemahnya permintaan pasar serta meningkatnya persaingan akibat masuknya produk impor.

Tekanan juga semakin besar seiring adanya pengalihan arus perdagangan dari negara-negara yang terdampak perang dagang dan dugaan praktik transshipment. Dalam situasi tersebut, penurunan harga energi hanya membantu dari sisi biaya produksi, sementara persoalan pasar memerlukan kebijakan tersendiri.

Yusuf menambahkan, Selat Hormuz bukan merupakan jalur utama ekspor manufaktur Indonesia menuju pasar utama seperti Amerika Serikat dan Eropa. Oleh sebab itu, manfaat logistik yang diperoleh lebih bersifat tidak langsung melalui penurunan premi risiko pengiriman, biaya bahan bakar kapal, dan premi asuransi.

"Faktor yang lebih menentukan prospek manufaktur ke depan tetap akses pasar ekspor serta kekuatan permintaan, baik dari dalam maupun luar negeri," pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Apa dampak bagi saya, jika saya...



TERBARU
Kontan Academy
Langganan Business Insight promo optimal Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×