kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.887.000   7.000   0,24%
  • USD/IDR 16.850   -59,00   -0,35%
  • IDX 8.951   -41,17   -0,46%
  • KOMPAS100 1.235   -4,75   -0,38%
  • LQ45 874   -1,52   -0,17%
  • ISSI 329   -0,59   -0,18%
  • IDX30 449   0,67   0,15%
  • IDXHIDIV20 532   3,66   0,69%
  • IDX80 137   -0,49   -0,35%
  • IDXV30 148   1,36   0,93%
  • IDXQ30 144   0,72   0,50%

Semen Baturaja (SMBR) Bidik Pertumbuhan Pendapatan dan Laba Dobel Digit pada 2026


Minggu, 25 Januari 2026 / 16:12 WIB
Semen Baturaja (SMBR) Bidik Pertumbuhan Pendapatan dan Laba Dobel Digit pada 2026
ILUSTRASI. Karyawan di Pabrik PT Semen Baturaja Tbk (SMBR) (Dok/Semen Batuaraja)


Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Semen Baturaja Tbk (SMBR) membidik pertumbuhan pendapatan dan laba bersih dengan level dobel digit pada tahun 2026.

Anak usaha dari Semen Indonesia Group (SIG) ini menyiapkan sejumlah strategi untuk mendongkrak volume penjualan dan menjaga daya saing di tengah industri semen yang masih kompetitif. 

Corporate Secretary Semen Baturaja, Hari Liandu belum membuka gambaran kinerja pendapatan dan laba bersih SMBR sepanjang tahun 2025.

Baca Juga: Laba Melejit 310,83%, Semen Baturaja (SMBR) Lampaui Target Kinerja 2025

Hari hanya membeberkan bahwa realisasi volume produksi dan penjualan semen SMBR pada tahun 2025 mencapai sekitar 2,46 juta ton.

Jumlah itu mencerminkan kenaikan sekitar 10% dibandingkan tahun 2024. Sedangkan untuk tahun 2026, SMBR ingin menjaga stabilitas volume produksi seperti pada tahun 2025.

Namun untuk volume penjualan, SMBR menargetkan bisa mencapai pertumbuhan sekitar 12,6% dibandingkan tahun lalu.

 

Dengan estimasi tersebut, Hari memproyeksikan pendapatan SMBR pada tahun 2026 bisa meningkat sebesar 13,6%. Sedangkan laba bersih SMBR diproyeksikan bisa tumbuh sekitar 57% dibandingkan tahun 2025.

Baca Juga: Semen Baturaja (SMBR) Perkuat Strategi Bisnis dengan Penambahan Bidang Usaha

Wilayah Sumatra Bagian Selatan (Sumbagsel) masih menjadi basis pasar utama bagi SMBR. Hari menggambarkan pada tahun lalu, pangsa pasar (market share) SMBR di wilayah Sumbagsel mencapai sekitar 34%.

"SMBR melihat peluang kuat di wilayah Sumbagsel yang menjadi basis penjualan utama, dimana permintaan sering lebih stabil atau bahkan meningkat dibandingkan tren nasional," kata Hari kepada Kontan.co.id, Minggu (25/1/2026).

SMBR akan fokus pada produk inovatif seperti semen Portland Composite Cement (PCC) yang lebih rendah carbon. SMBR juga mengembangkan bisnis white clay dan limestone untuk menambah pendapatan selain semen.

"Sinergi operasional dengan SIG membantu efisiensi distribusi, logistik dan biaya, yang memperkuat posisi SMBR dalam pasar yang kompetitif," imbuh Hari.

Tantangan & Peluang pada 2026

SMBR pun telah memetakan sejumlah tantangan dan peluang yang bakal mengiringi industri semen pada tahun ini. Hari menyoroti tantangan dari permintaan semen di Indonesia yang menunjukkan tren kontraksi pada beberapa tahun terakhir. 

Kondisi ini antara lain disebabkan melambatnya proyek konstruksi dan penurunan pembelian semen di sejumlah wilayah besar seperti Jawa dan Kalimantan. Sementara itu, kapasitas produksi nasional masih jauh melebihi permintaan domestik, yang menyulitkan utilisasi pabrik dan menekan harga serta margin keuntungan.

Baca Juga: Strategi Semen Baturaja (SMBR) Pasca Cetak Lonjakan Kinerja pada Semester I-2025

Menimbang kondisi di industri semen tersebut, SMBR mewasdapai tiga tantangan. Pertama, oversupply industri yang menyebabkan kompetisi harga dan utilitas pabrik. Kedua, aktivitas konstruksi di wilayah tertentu masih lambat, sehingga menekan angka penjualan semen.

Ketiga, biaya energi dan logistik yang masih menjadi faktor penekan. Di tengah berbagai tantangan tersebut, SMBR melirik tiga peluang untuk mendongkrak performa bisnis pada tahun ini.

Pertama, peluang dari program pembangunan rumah dan infrastruktur besar. Kedua, perkembangan produk green cement. Ketiga, permintaan di Sumatra yang relatif stabil dibandingkan dengan Jawa.

SMBR pun mengusung tiga strategi untuk menangkap peluang tersebut, sekaligus meningkatkan market share. Pertama, memperkuat distribusi dan jaringan penjualan di wilayah Sumbagsel. Kedua, efisiensi operasional (cost leadership) agar harga tetap kompetitif. Ketiga, sinergi pemasaran dan logistik dengan SIG.

Secara operasional, SMBR melakukan optimalisasi pabrik dan rantai pasok. Sementara secara bisnis, SMBR didukung oleh penjualan multi-brand SIG dengan pengelolaan pasar wilayah memiliki risiko yang lebih rendah dan pendapatan lebih beragam.

Baca Juga: Simak Strategi Semen Baturaja (SMBR) Jaga Momentum Pertumbuhan Kinerja

Sedangkan dari sisi pemasaran, SMBR fokus pada penetrasi pasar regional, ritel dan proyek infrastruktur, serta penguatan merek di wilayah inti. Guna memuluskan berbagai strategi tersebut, pada tahun ini SMBR menyiapkan belanja modal alias capital expenditure (capex) sebesar Rp 69,87 miliar.

Capex tersebut akan digunakan untuk pemeliharaan rutin pabrik, pembelian alat bantu operasional, serta pengembangan fasilitas produksi. Secara nilai, anggaran capex SMBR tahun ini lebih mini dibandingkan tahun lalu, yakni sebesar Rp 73,51 miliar.

"Hal ini karena adanya penerapan efisiensi untuk operational excellence," tandas Hari.

Selanjutnya: Pelonggaran Syarat Kredit Bikin NPL Bank Melonjak?

Menarik Dibaca: 5 Manfaat Rutin Minum Kopi Setiap Hari untuk Kesehatan Tubuh

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU
Kontan Academy
SPT Tahunan PPh Coretax: Mitigasi, Tips dan Kertas Kerja Investing From Zero

[X]
×