Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Noverius Laoli
Pertama, peluang dari program pembangunan rumah dan infrastruktur besar. Kedua, perkembangan produk green cement. Ketiga, permintaan di Sumatra yang relatif stabil dibandingkan dengan Jawa.
SMBR pun mengusung tiga strategi untuk menangkap peluang tersebut, sekaligus meningkatkan market share. Pertama, memperkuat distribusi dan jaringan penjualan di wilayah Sumbagsel. Kedua, efisiensi operasional (cost leadership) agar harga tetap kompetitif. Ketiga, sinergi pemasaran dan logistik dengan SIG.
Secara operasional, SMBR melakukan optimalisasi pabrik dan rantai pasok. Sementara secara bisnis, SMBR didukung oleh penjualan multi-brand SIG dengan pengelolaan pasar wilayah memiliki risiko yang lebih rendah dan pendapatan lebih beragam.
Baca Juga: Simak Strategi Semen Baturaja (SMBR) Jaga Momentum Pertumbuhan Kinerja
Sedangkan dari sisi pemasaran, SMBR fokus pada penetrasi pasar regional, ritel dan proyek infrastruktur, serta penguatan merek di wilayah inti. Guna memuluskan berbagai strategi tersebut, pada tahun ini SMBR menyiapkan belanja modal alias capital expenditure (capex) sebesar Rp 69,87 miliar.
Capex tersebut akan digunakan untuk pemeliharaan rutin pabrik, pembelian alat bantu operasional, serta pengembangan fasilitas produksi. Secara nilai, anggaran capex SMBR tahun ini lebih mini dibandingkan tahun lalu, yakni sebesar Rp 73,51 miliar.
"Hal ini karena adanya penerapan efisiensi untuk operational excellence," tandas Hari.
Selanjutnya: Pelonggaran Syarat Kredit Bikin NPL Bank Melonjak?
Menarik Dibaca: 5 Manfaat Rutin Minum Kopi Setiap Hari untuk Kesehatan Tubuh
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













