Reporter: Arif Ferdianto | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dewan Energi Nasional (DEN) meminta pemerintah segera memperkuat ketahanan energi nasional menyusul kembali ditutupnya jalur pelayaran minyak Selat Hormuz oleh Teheran.
Langkah mitigasi darurat berupa percepatan program mandatori pencampuran bahan bakar minyak (BBM) jenis bensin dengan bioetanol 5% atau E5 hingga E10. Selain itu, pengetatan cadangan operasional badan usaha dinilai mendesak untuk menekan ketergantungan impor minyak di tengah meningkatnya tensi geopolitik Timur Tengah.
Anggota DEN, Saleh Abdurrahman menjelaskan bahwa Indonesia sebenarnya telah melakukan langkah antisipasi dengan memecah konsentrasi asal impor minyak mentah ke beberapa negara alternatif di luar kawasan konflik.
"Sejak krisis AS-Iran terjadi, Indonesia sudah melakukan diversifikasi sumber impor termasuk dari Rusia untuk mengurangi ketergantungan impor terutama dari Saudi Arabia yang pasokan minyaknya melewati selat Hormuz," ujarnya kepada Kontan.co.id, Minggu (19/7/2026).
Baca Juga: PTPN I Genjot Hilirisasi Tebu Jadi Bioetanol, Kapasitas Produksi 100 Kiloliter/Hari
Saleh mengungkapkan, pasokan minyak mentah domestik saat ini masih relatif aman karena mayoritas dikirim dari wilayah yang jauh dari zona perang geopolitik.
"Sementara impor minyak mentah utama Indonesia berasal dari Nigeria dan Angola yang tidak terpengaruh secara langsung dari krisis Timur Tengah. Namun yang kita mesti juga antisipasi untuk produk BBM impor dari Singapura yang mungkin saja bisa terdampak dari meluasnya krisis selat Hormuz ke Bab el Mandeb laut merah," ungkapnya.
Melihat eskalasi militer yang berisiko memutus arus kapal tanker komersial secara berkepanjangan, Saleh mendesak komitmen serius dari seluruh pemangku kepentingan untuk segera mengamankan stok BBM nasional.
"Dengan berulangnya krisis Timur Tengah ini boleh jadi ini akan berkepanjangan sehingga kita sudah harus lebih serius menyiapkan cadangan penyangga energi dan memperketat kepatuhan badan usaha untuk memiliki 23 hari cadangan operasional," tegasnya
Selain memperketat cadangan operasional, lanjut Saleh, pemangkasan konsumsi bahan bakar fosil berbasis impor, khususnya untuk jenis bensin (gasoline), harus segera diakselerasi melalui konversi energi ramah lingkungan.
Baca Juga: Jaya Sukses Makmur (RISE) Bangun Resort Premium di Ubud Bali, Investasi Rp 1 Triliun
"Selain itu mengurangi ketergantungan terhadap BBM impor khususnya gasoline melalui percepatan penerapan bioetanol E5 dan E10 serta mulai secara masif mendorong penggunaan transportasi publik serta kendaraan listrik," tuturnya.
Terkait kalkulasi biaya logistik dalam negeri, Saleh menilai program B50 menjadi tameng utama pertahanan ekonomi meski fluktuasi harga minyak mentah global tetap membayangi produk nonsubsidi.
"Kalau biosolar yang banyak digunakan untuk kegiatan niaga, relatif kita sudah bisa mandiri melalui B50 sehingga diharapkan tidak terlalu mempengaruhi biaya logistik, meskipun komponen minyak mentah impor untuk produksi solar juga bisa mempengaruhi biaya produksi Pertamina yang berdampak juga terhadap harga jual untuk produk biosolar khususnya non subsidi," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_24062609492500.jpg)
