Reporter: Arif Ferdianto | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Pekerjaan Umum (PU) melalui Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) tengah memfinalisasi Peraturan Menteri (Permen) PU terkait pedoman integrasi jalan tol.
Anggota BPJT Kementerian PU, Sony Sulaksono Wibowo mengatakan, payung hukum tersebut diproyeksikan terbit pada bulan ini guna mendukung efisiensi pelayanan lalu lintas di jaringan tol nasional.
"Saat ini Permen PU terkait dengan Pedoman integrasi jalan tol sudah mendekati tahap finalisasi dan diharapkan bulan ini sudah dapat terbit," ujarnya kepada Kontan, Rabu (4/11/2026).
Baca Juga: Avian Brands (AVIA) Kantongi Pengakuan KPPU, Masa Berlaku hingga Lima Tahun
Sony menjelaskan, integrasi jalan tol mencakup penyatuan pengoperasian serta penyesuaian sistem penarifan. Ini disusun untuk pengembangan jaringan dan keberlangsungan pengusahaan tol di kawasan perkotaan seperti Jabodetabek, Surabaya Raya, hingga Medan Raya.
Untuk wilayah Jabodetabek, integrasi tarif bukan merupakan hal baru karena sebelumnya telah diterapkan pada tol JORR 1 serta penggabungan tol Mohammad Bin Zayed (MBZ) dan Jakarta-Cikampek (Japek).
Sony menyebutkan konsep rencana induk integrasi akan mengacu pada pertimbangan pergerakan komuter dan koridor logistik. BPJT membuka kesempatan bagi Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) untuk mengajukan usulan integrasi setelah aturan resmi diundangkan.
"Dalam waktu dekat ini, sudah ada beberapa BUJT yang ingin mengusulkan integrasi dan diharapkan nanti setelah terbit Permen PU tentang pedoman integrasi usulan akan diajukan," terangnya.
Sony menuturkan, salah satu usulan yang sedang disiapkan meliputi integrasi jalur logistik di sisi timur Jakarta, di mana salah satunya melibatkan ruas jalan tol Cibitung-Cilincing, ruas Jakarta-Cikampek, dan ruas Akses Tanjung Priok dan Barat.
"Kajian yang sudah dilakukan oleh BUJT sudah menunjukan bahwa integrasi tersebut dapat meningkatkan efisiensi biaya transportasi untuk logistik dari dan ke Tanjung Priok," imbuhnya.
Lebih lanjut, Sony menambahkan, selama ini arus kendaraan logistik ke Tanjung Priok memicu penumpukan armada truk berat di JORR 1. Kepadatan tersebut terjadi akibat perbedaan tarif dengan ruas tol alternatif berkapasitas besar di sekitarnya yang justru cenderung sepi pemakai.
Baca Juga: Harga Batubara Acuan (HBA) Kalori Tinggi Turun, Tapi Harga Kalori Rendah Justru Naik
"Dengan integrasi, disparitas tarif antara ruas jalan tol berdekatan dalam sistem jaringan dapat dihilangkan sehinga terjadi distribusi pergerrakan yang berimbang di setiap ruas-ruas jalan tol yang ada," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Executive Education Program] Sustainable Development and ESG Leadership](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_23102611123400.jpeg)
