kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.045.000   -77.000   -2,47%
  • USD/IDR 16.919   17,00   0,10%
  • IDX 7.577   -362,70   -4,57%
  • KOMPAS100 1.058   -52,77   -4,75%
  • LQ45 772   -33,15   -4,11%
  • ISSI 268   -15,46   -5,46%
  • IDX30 410   -16,83   -3,94%
  • IDXHIDIV20 502   -16,39   -3,16%
  • IDX80 119   -5,62   -4,51%
  • IDXV30 136   -4,86   -3,45%
  • IDXQ30 132   -4,99   -3,63%

Tensi Geopolitik Timur Tengah Meningkat, DPR Dorong Mitigasi untuk Jaga Pasokan Migas


Rabu, 04 Maret 2026 / 14:46 WIB
Tensi Geopolitik Timur Tengah Meningkat, DPR Dorong Mitigasi untuk Jaga Pasokan Migas


Reporter: Sabrina Rhamadanty | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ketua Komisi XII DPR RI Bambang Patijaya, menyatakan dukungannya terhadap langkah Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dalam melakukan mitigasi terhadap potensi gangguan pasokan minyak dan gas dunia akibat meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah yang berpotensi berdampak pada akses pelayaran di Selat Hormuz.

Menurut Bambang, Selat Hormuz merupakan salah satu jalur energi paling strategis di dunia karena sekitar 20 persen suplai minyak global melewati kawasan tersebut. Oleh karena itu, apabila jalur tersebut terganggu atau bahkan ditutup akibat konflik, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh negara-negara di Timur Tengah, tetapi juga oleh negara pengimpor energi seperti Indonesia.

Ia menjelaskan bahwa saat ini Indonesia masih mengimpor sejumlah komoditas energi dari kawasan Timur Tengah, termasuk crude oil serta LPG dari Arab Saudi. Ketergantungan terhadap jalur pasokan tersebut membuat pemerintah perlu menyiapkan langkah antisipatif agar stabilitas pasokan energi domestik tetap terjaga apabila terjadi gangguan distribusi global.

Baca Juga: Pertamina Siapkan Jalur Alternatif Pasokan Minyak dari Timur Tengah

“Kami mendukung langkah Menteri ESDM yang telah menyiapkan langkah-langkah mitigasi untuk menjaga keberlangsungan pasokan energi nasional. Dalam situasi geopolitik global yang dinamis, upaya antisipatif seperti ini sangat penting agar ketahanan energi Indonesia tetap terjaga,” ujar Bambang dalam keterangan tertulis, Rabu (04/03/2026).

Menurutnya, pemerintah tidak bisa berspekulasi mengenai berapa lama potensi gangguan di Selat Hormuz dapat berlangsung, sehingga langkah mitigasi perlu dilakukan sejak dini.

Ia menilai diversifikasi sumber pasokan menjadi salah satu opsi penting agar Indonesia memiliki fleksibilitas dalam menjaga keberlanjutan pasokan energi nasional.

Baca Juga: Timur Tengah Memanas, Harga Minyak Berpotensi Naik dan Beban Subsidi Membengkak

“Salah satu langkah yang dapat dipertimbangkan adalah memperluas sumber pasokan minyak dan gas dari negara-negara lain yang secara geopolitik lebih stabil, termasuk dari Amerika Serikat maupun negara produsen lain yang memiliki jalur distribusi lebih aman,” lanjutnya.

Lebih lanjut, Bambang menyampaikan bahwa stok crude oil nasional saat ini berada pada kisaran sekitar 21 hari dan masih dalam kondisi aman. Namun demikian, ia menilai situasi geopolitik global yang dinamis menuntut pemerintah untuk tetap melakukan langkah antisipatif guna memastikan keberlanjutan pasokan energi bagi masyarakat dan sektor industri.

“Stok saat ini memang masih aman, tetapi mitigasi tetap perlu disiapkan sejak dini. Ketahanan pasokan migas sangat penting karena menyangkut stabilitas ekonomi dan kebutuhan energi masyarakat,” tutupnya.

Baca Juga: Porsi Impor Minyak RI dari Timur Tengah 25%, Pemerintah Siapkan Skenario Ini

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU
Kontan Academy
AI untuk Digital Marketing: Tools, Workflow, dan Strategi di 2026 Mastering Strategic Management for Sustainability

[X]
×