kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.893.000   -50.000   -1,70%
  • USD/IDR 16.949   -61,00   -0,36%
  • IDX 7.107   84,55   1,20%
  • KOMPAS100 978   11,34   1,17%
  • LQ45 722   8,69   1,22%
  • ISSI 249   4,23   1,73%
  • IDX30 393   5,52   1,42%
  • IDXHIDIV20 489   3,83   0,79%
  • IDX80 110   1,42   1,31%
  • IDXV30 134   2,21   1,67%
  • IDXQ30 127   1,16   0,92%

Transaksi Digital RI Melonjak 133% di Periode Lebaran, Sistem TI Perusahaan Diuji


Sabtu, 21 Maret 2026 / 19:30 WIB
Transaksi Digital RI Melonjak 133% di Periode Lebaran, Sistem TI Perusahaan Diuji
ILUSTRASI. Ilustrasi Digital Banking (KONTAN/Cheppy A. Muchlis). Lonjakan aktivitas digital menjelang Lebaran 2026 mulai memberi tekanan besar pada sistem teknologi informasi (TI) perusahaan di Indonesia.


Reporter: Muhammad Alief Andri | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Lonjakan aktivitas digital menjelang Lebaran 2026 mulai memberi tekanan besar pada sistem teknologi informasi (TI) perusahaan di Indonesia. 

Peningkatan transaksi yang terjadi dalam waktu singkat membuat beban trafik melonjak tajam dan sulit diprediksi secara real-time.

Berdasarkan keterangan resmi ManageEngine, transaksi digital di Indonesia naik hingga 133% pada Februari 2026. Kenaikan ini didorong tingginya permintaan dari sektor e-commerce, perbankan digital, hingga layanan perjalanan dan on-demand.

Lonjakan tersebut membuat pola transaksi yang biasanya tersebar dalam beberapa minggu kini terpusat hanya dalam hitungan hari. Dampaknya, sistem TI harus mampu menahan lonjakan trafik yang tinggi dalam waktu bersamaan.

Baca Juga: Aktivitas Digital Ramadan dan Idul Fitri Meningkat, Waspada Penipuan & Jebakan Siber

Technical Manager ManageEngine, Hanief Bastian, menilai periode menjelang Lebaran menjadi momen krusial bagi operasional bisnis.

“Tanpa visibilitas penuh terhadap lingkungan TI, tim akan kesulitan mendeteksi anomali secara cepat dan mencegah gangguan layanan,” ujarnya dalam keterangan resmi, Sabtu (21/3/2026), Sabtu (21/3/2026).

Ia menjelaskan, risiko seperti kegagalan transaksi, lambatnya respons sistem, hingga gangguan layanan dapat berdampak langsung pada pendapatan dan kepercayaan pelanggan.

Bahkan, downtime singkat sekalipun berpotensi menimbulkan kerugian serta merusak reputasi dalam jangka panjang.

Di sisi lain, kompleksitas infrastruktur TI yang semakin tinggi turut menjadi tantangan. Banyak perusahaan kini mengadopsi sistem hybrid yang menggabungkan server internal, multi-cloud, dan perangkat terdistribusi.

Meski lebih fleksibel dan skalabel, arsitektur ini kerap menyulitkan pemantauan lintas sistem secara menyeluruh.

Baca Juga: Transformasi Digital Dongkrak Efisiensi Bisnis, Peruri Perkuat Sistem Terintegrasi

Tanpa pengawasan yang terintegrasi, gangguan seperti latensi API, hambatan pada database, hingga lonjakan trafik tidak wajar berisiko terlambat terdeteksi.

Menghadapi kondisi ini, perusahaan mulai mengubah pendekatan operasional TI dari reaktif menjadi lebih proaktif.

Sejumlah langkah dilakukan, mulai dari peningkatan visibilitas sistem end-to-end, pemanfaatan analitik untuk deteksi dini gangguan, hingga penggunaan otomasi guna mempercepat respons dan meningkatkan efisiensi.

Selain itu, performa sistem TI juga mulai dikaitkan langsung dengan pengalaman pengguna agar dampak gangguan dapat ditekan saat terjadi lonjakan trafik.

Periode menjelang Lebaran pun dinilai sebagai ujian nyata ketahanan digital perusahaan. Perusahaan yang mampu menjaga stabilitas sistem berpeluang memperkuat kepercayaan pelanggan, sementara yang tidak siap berisiko kehilangan potensi pendapatan.

Baca Juga: Usai Pelatihan Digital, Penjualan UMKM di Shopee Naik 3 Kali Lipat

Seiring pesatnya pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia, kebutuhan akan sistem TI yang andal diperkirakan akan terus meningkat. Kesiapan infrastruktur TI kini tak lagi sekadar aspek teknis, melainkan menjadi bagian penting dari strategi bisnis jangka panjang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU

[X]
×