kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.635.000   20.000   0,76%
  • USD/IDR 18.090   -20,00   -0,11%
  • IDX 6.068   28,32   0,47%
  • KOMPAS100 795   6,77   0,86%
  • LQ45 604   5,03   0,84%
  • ISSI 210   0,26   0,12%
  • IDX30 341   2,64   0,78%
  • IDXHIDIV20 425   3,10   0,74%
  • IDX80 91   0,70   0,77%
  • IDXV30 116   0,43   0,37%
  • IDXQ30 110   0,84   0,77%

Tren Skinification Oral Care, Biaya Rawat Gigi Indonesia Termahal Kedua di ASEAN


Rabu, 15 Juli 2026 / 12:42 WIB
Tren Skinification Oral Care, Biaya Rawat Gigi Indonesia Termahal Kedua di ASEAN
ILUSTRASI. Perawatan Preventif untuk Kesehatan Gigi (Dok/Usmile Indonesia)


Reporter: Fahriyadi | Editor: Fahriyadi .

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Mengutip laporan WHO’s Oral Health Country Profile 2022 yang dilansir oleh Badan Kebijakan Kementerian Kesehatan RI, pengeluaran masyarakat Indonesia untuk perawatan kesehatan gigi tercatat sebagai yang tertinggi kedua di Asia Tenggara. Angkanya mencapai rata-rata US$ 1.160, membayangi Singapura di posisi pertama. Realitas finansial ini menjadi alarm keras bahwa kelalaian dalam perawatan preventif sehari-hari sering kali berujung pada tindakan kuratif yang menguras kantong.

Fenomena kesadaran finansial dan kesehatan ini sejalan dengan melejitnya tren kecantikan global yang dikenal sebagai Skinification. Awalnya, tren ini lahir dari tingginya paparan edukasi di industri kecantikan yang membuat konsumen menjadi sangat kritis dan ingredient-conscious. Mereka tidak lagi asal membeli produk, melainkan mempelajari secara detail fungsi bahan aktif seperti serum, ceramide, hingga eksfoliator untuk wajah mereka.

Baca Juga: Usmile Hadirkan Pasta Gigi Glitter Ungu Pertama di Indonesia

Kini, tren tersebut merambah ke ranah oral care. Konsumen modern mulai menyadari bahwa rongga mulut dan pelindung gigi sama berharganya dengan skin barrier. Perawatan gigi tidak lagi dilihat sebagai sekadar rutinitas membersihkan kotoran dengan busa atau pasta gigi konvensional, melainkan sebuah ritual kecantikan yang menuntut nutrisi, perbaikan, dan perlindungan dari bahan aktif spesifik yang teruji secara medis.

Terkait maraknya tuntutan perawatan harian ini, praktisi kesehatan gigi yang dikenal luas di TikTok dengan akun 'Malaikat Pencabut Gigi', drg. Zahrah Almira Cita Utami, menekankan pentingnya edukasi preventif bagi masyarakat agar tidak terjebak pada kebiasaan yang salah dan 'menguras kantong'.

"Banyak pasien yang datang ke saya dan mengeluhkan mengapa belum ada perubahan meskipun sudah menggunakan pasta gigi pencerah. Kenyataannya, kalau kebiasaan merokok, mengopi, dan makan makanan yang berwarna pekat masih terus dilakukan, stain (noda di gigi) akan tetap menempel dengan kuat," jelas drg. Zahrah, Rabu (15/7/2026).

Sebagai tindakan preventif harian, ia menyarankan langkah mitigasi yang mudah diaplikasikan. "Kalau kebiasaan tersebut tidak bisa dikurangi, pastikan untuk selalu bilas atau berkumur menggunakan air mineral setelahnya. Jika mengonsumsi minuman yang berwarna, bisa menggunakan sedotan untuk mengurangi dampak diskolorasi warna gigi," sarannya.

Dalam pemilihan produk perawatan, drg. Zahrah juga mengingatkan konsumen untuk lebih kritis. "Pastikan tidak hanya menggunakan pasta gigi yang hanya memiliki busa banyak, tapi nyatanya tidak dapat mengangkat noda atau stain. Saya menyarankan pasta gigi yang sudah ada uji labnya. Apabila memang setelah rutin melakukan perawatan mandiri ini keluhan atau masalahnya tidak selesai, baru langkah yang harus diambil adalah menemui dokter gigi untuk penanganan lebih lanjut," jelasnya.

Pergeseran standar perawatan menuju Skinification ini pada akhirnya menuntut inovasi nyata pada formulasi pasta gigi. Jika produk pada umumnya kerap mengandalkan butiran abrasif kasar yang berisiko menggores enamel, pendekatan modern kini beralih ke sistem enzimatik yang jauh lebih lembut namun sangat efektif.

Formulasi mutakhir saat ini mengedepankan sinergi bahan aktif seperti enzim Papain, Dextranase, dan Lysozyme. Papain, yang diekstrak secara alami dari buah pepaya, bekerja layaknya eksfoliator kimiawi pada kulit wajah yang bertugas meluruhkan ikatan protein noda kopi atau teh tanpa perlu mengikis struktur gigi. Kinerja ini didukung oleh Dextranase yang secara spesifik memotong rantai matriks plak yang lengket sehingga lebih mudah terlepas dari permukaan gigi. Sementara itu, Lysozyme bertindak sebagai agen anti-bakteri alami yang menekan peradangan dan menjaga keseimbangan mikrobioma di dalam rongga mulut.

Menanggapi kebutuhan akan produk yang sejalan dengan prinsip Skinification ini, Michelle, Country Manager usmile Indonesia & Malaysia, mengonfirmasi pentingnya ketelitian dalam memilih kandungan pasta gigi seperti yang diedukasikan oleh drg. Zahrah.

"Apa yang disampaikan oleh drg. Zahrah sangat memotret realitas pasar. Konsumen harus semakin jeli menyadari bahwa pasta gigi dengan busa berlimpah atau bahan abrasif kasar yang diklaim memutihkan instan justru berisiko menggores enamel, yang pada akhirnya memicu tingginya biaya ke dokter gigi di kemudian hari," ungkap Michelle.

"Sebagai solusi preventif, usmile varian Repair White mengusung prinsip Skinification dengan mengganti bahan abrasif kasar menjadi Enzyme Complex. Kami memanfaatkan kombinasi Papain, Dextranase, dan Lysozyme yang teruji secara lab. Ketiga bahan ini bekerja merontokkan stain noda secara luar biasa efektif tanpa merusak kekuatan pelindung alami gigi. Ini adalah komitmen usmile untuk menghadirkan perawatan estetika yang tidak hanya aman secara medis, namun juga melindungi finansial konsumen jangka panjang," tutup Michelle.

Hadirnya inovasi skincare untuk mulut ini diharapkan mampu mendorong masyarakat Indonesia untuk lebih teliti berinvestasi pada produk harian yang tepat, menekan laju pengeluaran medis, dan menjaga estetika senyum dengan cara yang paling aman.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Teori, Strategi & Taktik Penagihan Kredit/ Piutang Macet Secara Dini & Terintegrasi Serta Efisien & Efektif

[X]
×