Penulis: Chelsea Anastasia, Chelsea Anastasia | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Emiten tekstil PT Trisula Textile Industries Tbk (BELL) mengandalkan pabrik semibutik miliknya sebagai strategi meningkatkan penjualan hingga akhir tahun 2026.
Direktur Pemasaran BELL Lukas Ginting mengatakan, alih-alih pabrik dengan produksi massal (mass production), perusahaan menggunakan semibutik karena tren pembelian yang terus berkembang. Dengan begitu, penjual garmen yang membeli ke pabrik perusahaan dapat mengurangi risiko pasar.
"Dengan semibutik, minimum order quantity (MOQ) mereka itu bisa lebih sedikit mengingat karakter pembelian customer sekarang itu trennya cepat berubah," jelas Lukas kepada Kontan, pekan lalu.
Baca Juga: Industri Konstruksi Tertekan Kenaikan Biaya dan Restitusi Pajak Tertahan
Hal ini merupakan upaya perusahaan untuk keluar dari persaingan ketat pasar konvensional, atau yang disebut juga blue ocean strategy.
Menurut Lukas, BELL ke depannya tidak akan melakukan red ocean strategy atau bersaing dengan pemain-pemain besar di industri tekstil.
"Namun kita bisa berdampingan, misalnya melalui strategi atau produk apa yang tidak mereka garap, itu yang kami ambil," imbuhnya.
Karena itu, pada semester kedua, BELL juga akan memperkuat inovasi produk yang salah satunya dilakukan dari fasilitas riset & pengembangan (research & development/R&D) perusahaan, Trisula Innovation Center (TIC).
Lukas menyebutkan fasilitas tersebut akan terus dimanfaatkan perusahaan untuk mengembangkan produk, menciptakan inovasi bisnis, hingga berkolaborasi dengan perusahaan-perusahaan di grup yang sama.
Meski memang, Lukas bilang, bisnis ritel miliknya melalui merek dagang JOBB dan Jack Nicklaus cukup menantang sepanjang tahun ini.
Maka itu, ekspansi yang direncanakan perusahaan juga lebih selektif dengan menyasar sejumlah wilayah baru yang memiliki potensi pertumbuhan.
"Jadi kita harapkan, di kuartal III dan IV, bisnis ritel ini bisa menyumbang pertumbuhan di tahun ini," katanya.
Di tengah dinamika industri ritel, BELL tetap menargetkan pertumbuhan penjualan 8% hingga akhir tahun ini.
"Sementara tidak ada perubahan (target penjualan), kita upayakan syukur-syukur bisa di atas 8% hingga akhir tahun ini," jelas Lukas.
Pada semester I-2026, BELL melaporkan penjualan yang meningkat 16,6% secara tahunan (year on year/yoy) ke Rp 330 miliar, sedangkan laba bersih tumbuh signifikan sebesar 62,9% yoy menjadi Rp 13 miliar.
Lukas menjelaskan, raihan ini didorong oleh pertumbuhan pada hampir seluruh lini bisnis perusahaan, ditopang lini manufaktur.
"Lini bisnis yang utama itu manufaktur yang jadi tulang punggung, tumbuh sekitar 13,7% year on year dengan kontribusi sebesar 43% terhadap total penjualan secara konsolidasi," ungkapnya.
Di posisi kedua, kata Lukas, segmen distribusi turut bertumbuh 23,9% dengan menyumbang 24% terhadap penjualan.
"Jadi peningkatan ini mencerminkan kuatnya saluran distribusi perusahaan yang menyerap permintaan pasar di tengah dinamika rantai pasok industri tekstil saat ini ya," ujar Lukas.
Ia melanjutkan, penjualan dari segmen seragam bertumbuh paling signifikan. Pada separuh pertama, penjualan segmen ini melonjak 322,8% yoy dari Rp 15,7 miliar menjadi Rp 66,4 miliar.
"Capaian ini dipicu oleh meningkatnya permintaan dari sektor korporasi, yakni instansi swasta atau pemerintah, yang mendorong pemesanan seragam dalam skala besar," tandas Lukas.
Baca Juga: Tersendatnya RKAB Picu Force Majeure, Pengamat: Tidak Semestinya Proses Berlarut
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














