kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   -20.000   -0,70%
  • USD/IDR 17.500   -30,00   -0,17%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Waduh! Harga rusun juga naik!


Rabu, 14 Maret 2012 / 18:02 WIB
ILUSTRASI. Pekerja menyiram tanaman di Tugu Pahlawan, Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (7/11/2020). Cuaca besok di Jawa dan Bali cerah berawan hingga hujan sedang, menurut prakiraan BMKG.


Reporter: Asnil Bambani Amri | Editor: Asnil Amri

JAKARTA. Pemerintah berencana menaikkan harga rumah sejahtera susun yang sebelumnya disebut rumah susun sederhana milik (rusunami).

Harga naik dari harga semula Rp 144 juta per unit menjadi Rp 190 juta per unit. Kenaikan harga juga terjadi untuk rumah sejahtera tapak, sebelumnya disebut rumah sederhana sehat (RSS) dari Rp 70 juta per unit menjadi Rp 80 juta per unit.

"Besok, kami akan mengajukan kenaikan harga ke Kementerian Keuangan. Kenaikan sesuai dengan inflasi, kenaikan harga bahan bangunan, keuntungan bagi pengembang," kata Menteri Perumahan Rakyat (Menpera), Djan Faridz kepada wartawan di kantornya, Rabu (14/3).

Sementara itu, Pangihutan Marpaung, Deputi bidang perumahan formal Kementerian Perumahan Rakyat menambahkan, kenaikan harga rumah sejahtera susun belum menghitung dampak kenaikan harga BBM. "Sementara diusulkan angka Rp 190 juta. Jika harga BBM naik, estimasi kenaikannya 10% menjadi Rp 209 juta per unit," tambah Pangihutan.

Sementara itu, Ketua DPP Real Estat Indonesia (REI) Setyo Maharso berpendapat, penentuan harga rumah susun itu bisa mengacu pada kemampuan daya masyarakat. REI sendiri bahkan mengajukan harga rumah susun Rp 205 juta per unit, belum termasuk BBM.

Djan Faridz menambahkan, meskipun harga rumah sejahtera susun naik, ia yakin akan tetap terbeli oleh masyarakat. Menurutnya, masyarakat berpenghasilan di bawah Rp 5,5 juta tidak ada masalah untuk membeli rusunami.

"Tinggal, nanti uang mukanya diperbesar lagi. Kalau PNS pinjam ke Bapertarum, swasta pinjam ke Jamsostek. Gaji Rp 3,5 juta juga bisa beli, asalkan rasio hutangnya tidak terlalu besar," teran Menteri ini. (Natalia Ririh | Latief/Kompas.com)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×