kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45886,18   -14,64   -1.62%
  • EMAS1.338.000 0,38%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Apindo Sebut Pelemahan Rupiah Bakal Rugikan Industri Manufaktur Nasional


Senin, 15 April 2024 / 18:12 WIB
Apindo Sebut Pelemahan Rupiah Bakal Rugikan Industri Manufaktur Nasional
ILUSTRASI. Petugas pemasaran melayani pengunjung pameran Pacific Coatings Show 2023 di JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu (18/10). Apindo Sebut Pelemahan Rupiah Bakal Rugikan Industri Manufaktur Nasional.


Reporter: Dimas Andi | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID- JAKARTA. Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menyoroti tren pelemahan nilai tukar rupiah yang berpotensi mengancam kinerja industri manufaktur nasional.

Berdasarkan pantauan Google Finance, rupiah telah menembus level Rp 16.057 per dollar AS pada Senin (15/4) sore.

Ketua Umum Apindo Shinta W. Kamdani menyampaikan, pelemahan rupiah sudah pasti akan memberi dampak negatif bagi industri manufaktur nasional yang masih memerlukan impor bahan baku/penolong dan barang modal.

Baca Juga: Dibayangi Tekanan Global, Apindo Prediksi Ekonomi RI Tumbuh di Kisaran 5% pada 2024

“Sekitar 70% dari total impor nasional adalah impor bahan baku/penolong industri yang mana jumlahnya akan naik menjadi 80% bila ditambah dengan impor barang modal,” ujar dia, Minggu (14/4).

Dari situ, para pelaku industri jelas harus menanggung kenaikan overhead cost dari kegiatan impor bahan bakunya.

Pelemahan rupiah tentu akan dirasakan oleh semua subsektor manufaktur tanpa terkecuali, mengingat seluruh industri manufaktur umumnya punya kebutuhan impor bahan baku/penolong dan barang modal.

Apindo memperkirakan gangguan terbesar bagi industri manufaktur ada di sisi suplai atau produksi. Kembali lagi, ini disebabkan oleh banyaknya pelaku industri yang menekan volume produksi seiring kenaikan beban overhead cost akibat pelemahan kurs rupiah.

Baca Juga: Pelemahan Rupiah dan Kenaikan Suku Bunga Acuan Membebani Pelaku Usaha

“Tahun lalu saja kami lihat beberapa industri secara voluntary menghentikan produksinya untuk sementara, karena bahan baku impor yang menjadi mahal akibat pelemahan nilai tukar,” kata Shinta.

Selain itu, ada kemungkinan harga produk-produk hasil industri manufaktur mengalami kenaikan di pasar jika pelemahan rupiah terjadi lebih dari satu bulan.

Imbasnya, inflasi harga pasar bisa tumbuh lebih tinggi serta penjualan atau konsumsi pasar melambat, sehingga ujung-ujungnya mengganggu kestabilan ekonomi nasional.

Apindo pun sangat berharap pemerintah dapat menciptakan intervensi moneter yang dibutuhkan untuk menciptakan stabilitas dan penguatan nilai tukar rupiah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Success in B2B Selling Omzet Meningkat dengan Digital Marketing #BisnisJangkaPanjang, #TanpaCoding, #PraktekLangsung

[X]
×