Reporter: Arif Ferdianto | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah terus mendorong pengembangan sektor hulu minyak dan gas bumi (migas) melalui penawaran blok-blok baru kepada investor. Dari total 118 blok migas yang disiapkan, sebanyak 60% di antaranya telah ditenderkan untuk menarik minat pelaku usaha.
Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan, proses tender tersebut dilakukan oleh Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Ditjen Migas) Kementerian ESDM.
"Terkait dengan persoalan blok-blok baru yang sekarang lagi dikembangkan oleh Dirjen Migas. Dari total 118 blok sudah ditenderkan 60%," ujarnya dalam acara FOREK Hulu Migas 2026 di Jakarta, Rabu (28/10/2026).
Bahlil juga menyoroti besarnya komitmen investasi dari sejumlah operator migas global yang akan menopang pengembangan proyek hulu migas di Indonesia dalam beberapa tahun mendatang.
Baca Juga: Hadapi Era Komputasi Kuantum, Peruri dan Telkom Siapkan Teknologi Keamanan Data
"Kita tahu bahwa investasi di sektor hulu Migas setiap tahun semakin meningkat dan di tahun 2027 itu ada pengembangan di ENI total investasinya sekitar US$ 23 miliar. Kemudian di Inpex juga di Masela sekitar US$ 20 miliar, kemudian di beberapa blok-blok yang lain," terangnya.
Menurut Bahlil, pengembangan proyek-proyek tersebut menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan produksi dan lifting migas nasional. Selain itu, investasi berskala besar di sektor hulu migas diharapkan memberikan dampak berganda bagi perekonomian, terutama melalui penciptaan lapangan kerja dan keterlibatan pelaku usaha lokal.
"Ini merupakan opportunity bagus untuk meningkatkan lifting, tapi di samping itu menciptakan lapangan pekerjaan, menciptakan pertumbuhan ekonomi, sudah begitu banyak yang dilibatkan lapangan pekerjaan masyarakat lokal, kontraktor lokal juga terlibat secara langsung," tandasnya.
Berdasarkan bahan paparannya, terdapat sejumlah penemuan dan proyek hulu migas yang tengah dikembangkan di Indonesia, mulai dari proyek di Kalimantan Timur hingga pengembangan lapangan gas di Maluku.
Pertama, proyek JNE#6 dan Maha di Kalimantan Timur. Kedua proyek tersebut memiliki potensi produksi gas gabungan lebih dari 290 juta kaki kubik standar per hari (MMSCFD).
Fasilitas Maha telah diresmikan pada 22 Oktober 2026, sedangkan proyek JNE#6 sudah mulai berproduksi.
Baca Juga: Ekspor Gas ke Singapura Dipangkas, Indef: RI Perlu Waspadai Risiko Balasan Ekonomi
Kedua, proyek Abadi Masela di Maluku dengan nilai investasi sebesar US$ 20,9 miliar. Proyek yang digarap oleh Inpex Masela Ltd. tersebut telah melaksanakan peletakan batu pertama atau groundbreaking pada Juli 2026 dan kini memasuki tahap konstruksi.
Ketiga, proyek North Hub di Kalimantan Timur yang memiliki potensi produksi gas sebesar 1.000 MMSCFD. Proyek senilai US$ 11,8 miliar ini telah mencapai keputusan investasi final atau Final Investment Decision (FID) pada Maret 2026. Sementara itu, proses fabrikasi fasilitas Floating Production, Storage and Offloading (FPSO) dimulai pada Juli 2026.
North Hub ditargetkan mulai berproduksi pada kuartal IV-2028.
Keempat, penemuan sumur Geliga di Kalimantan Timur yang memiliki potensi gas lebih dari 6 triliun kaki kubik (trillion cubic feet/Tcf). Penemuan tersebut diumumkan pada April 2026.
Saat ini, pengajuan rencana pengembangan atau Plan of Development (PoD) sumur Geliga masih dalam proses. Proyek tersebut ditargetkan mulai beroperasi atau onstream pada 2029.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














