kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.553   53,00   0,30%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Bakal Ganti LPG ke CNG 3 kg, ESDM Uji Coba Tabung Target Rampung Tiga Bulan


Rabu, 06 Mei 2026 / 14:56 WIB
Bakal Ganti LPG ke CNG 3 kg, ESDM Uji Coba Tabung Target Rampung Tiga Bulan
ILUSTRASI. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia saat di Kantor Kementerian ESDM, Jaka (KONTAN/Arif Ferdianto)


Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pemerintah mulai mematangkan rencana besar untuk mengurangi ketergantungan impor energi dan mengganti LPG subsidi 3 kilogram dengan gas alam terkompresi (CNG). Selain diklaim lebih efisien, skema ini juga berpotensi memangkas beban subsidi negara hingga puluhan triliun rupiah.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menegaskan, substitusi LPG 3 kg menjadi CNG merupakan langkah strategis untuk memanfaatkan sumber energi domestik. Pasalnya, Indonesia masih sangat bergantung pada impor LPG.

CNG merupakan bagian dari upaya mencari alternatif sumber energi yang tersedia di dalam negeri, sehingga bisa mengurangi ketergantungan impor. Bahlil menggambarkan bahwa dalam setahun Indonesia mengeluarkan devisa sekitar Rp 130 triliun - Rp 140 triliun untuk mengimpor LPG.

Baca Juga: Penjualan Emiten Pupuk Saraswanti (SAMF) Turun 19%, Kebun Sawit Jadi Penopang

"Apalagi kalau harga minyak dunia seperti sekarang, itu pasti lebih besar lagi, dan subsidi itu Rp 80 triliun sampai Rp 87 triliun. Nah, tidak ada cara lain dalam rangka membangun efisiensi, kita mencari akal agar bahan baku yang ada di negara kita itu bisa dikonversi untuk mengganti LPG," jelas Bahlil kepada awak media di Kantor Kementerian ESDM, Rabu (6/5/2026).

Konsumsi LPG nasional mencapai 8,6 juta ton per tahun. Sedangkan produksi dalam negeri hanya mampu mencapai 1,6 juta - 1,7 juta ton. Dus, impor tahunan LPG mencapai sekitar 7 juta ton.

Bahan baku CNG berasal dari gas alam yang didominasi oleh komponen metana (C1) dan etana (C2),  yang kemudian dipadatkan (compress) hingga mencapai tekanan tertentu. "Kalau LPG, devisa keluar negeri (impor) karena kita nggak punya bahan baku C3 dan C4," imbuh Bahlil.

Uji Coba Tabung

Saat ini, CNG ukuran 20 kg dan 12 kg sudah berjalan untuk digunakan di hotel dan restoran. Menurut Bahlil, penggunaan CNG untuk segmen komersial tersebut sudah prudent dan lebih efisien.

"Tapi kan rakyat nggak mungkin kita suruh yang berat-berat itu. Ini yang lagi kita godok, dan ini sudah kita kerjakan sebenarnya sejak setahun lalu. Tapi untuk mendapatkan teknologi yang 3 kg ini lagi kita tes," terang Bahlil.

Saat ini Kementerian ESDM melalui Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi Lemigas sedang melakukan uji coba tabung CNG 3 kg. Bahlil menegaskan, aspek keselamatan akan menjadi prioritas utama dalam pengujian tabung. "Makanya kami lagi uji coba. Ini belum diimplementasikan, masih dalam exercise," imbuhnya.

Baca Juga: Integra Indocabinet (WOOD) Ekspansi Pasar Ekspor ke Eropa dan Timur Tengah di 2026

Bahlil belum merinci kapan uji coba tabung akan rampung. Begitu juga mengenai skema tata niaga dan distribusi, serta pelibatan PT Pertamina maupun badan usaha swasta dalam substitusi LPG subsidi ke CNG 3 kg.

Bahlil menggambarkan, tata niaga CNG 3 kg ini akan mirip dengan LPG subsidi. "Beda-beda tipis, ini cuman yang diganti itu adalah satunya LPG, satunya CNG," ujarnya.

Bahlil menegaskan, pemerintah akan mensubsidi produk CNG 3 kg, sehingga harganya tidak akan lebih mahal dari LPG subsidi. Bahkan, Bahlil membuka peluang harga pasar produk CNG 3 kg akan lebih murah ketimbang LPG.

"Arahan Bapak Presiden baik itu CNG maupun LPG akan selalu mengedepankan membantu rakyat yang memang harus kita bantu. Dengan demikian, subsidi saya pastikan masih menjadi yang harus dilakukan untuk rakyat. (Harga CNG bisa lebih murah) do'akan seperti itu, minimal sama (dengan LPG)," tandas Bahlil.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Laode Sulaeman mengungkapkan pihaknya sedang menyiapkan peta jalan (roadmap) terkait penggunaan CNG untuk diversifikasi sumber energi. Secara teknis, dia meyakinkan bahwa pemakaian CNG 3 kg untuk substitusi gas melon sudah memungkinkan dengan menggunakan tabung tipe 4.

Baca Juga: EduALL dan Indonesia Mengajar Dorong Pemahaman Generasi Muda Terkait AI

Laode mengklaim, tabung tipe 4 sudah aman dan bisa langsung terhubung tanpa perlu pergantian kompor baru. Lemigas sedang menguji tabung tersebut, yang ditargetkan akan rampung dalam tiga bulan ke depan. Menurut Laode, Indonesia nantinya akan menjadi negara pertama di dunia yang menggunakan tabung tipe 4 untuk CNG 3 kg.

"Itu yang dikejar dalam waktu tiga bulan ke depan. Dari situ nanti sudah mulai memproduksi dalam jumlah yang lebih masif. Lemigas dalam setiap tahapan uji tabung, uji tekan, (faktor keselamatan) itu hal paling utama kami pastikan sebelum nanti dimasifkan," kata Laode dalam diskusi yang diselenggarakan oleh Aspebindo dan APLNCGI pada Selasa (5/5/2026).

Kementerian ESDM menargetkan tahap distribusi sudah bisa dimulai secara bertahap pada tahun ini. Substitusi LPG subsidi dengan CNG 3 kg ini akan dilakukan secara bertahap di kota-kota besar di Pulau Jawa terlebih dahulu. "Ini ada sisi penyiapan tabung, ada distribusi. Ini harus matching," imbuh Laode.

Dalam simulasi yang dilakukan oleh Pemerintah, substitusi LPG subsidi dengan CNG 3 kg ini dapat memangkas beban subsidi sekitar 30%. Namun, estimasi tersebut masih memperhitungkan harga pasaran CNG 3 kg setara dengan LPG gas melon.

"Penghematan itu adalah, dengan konten yang sama, dengan harga yang sama LPG 3 kg, (CNG) ini bisa menghemat 30%, subsidi lebih rendah daripada LPG. Memang masih bisa disimulasikan lagi, tapi hitung-hitungan awal seperti itu," terang Laode.

Namun, dengan penghematan biaya dan bahan baku yang bisa diperoleh dari lapangan gas di dalam negeri, Laode tak menutup kemungkinan harga pasar CNG 3 kg bakal lebih murah dibandingkan harga gas melon saat ini. "Ada peluang (harga) bisa lebih rendah, tergantung simulasinya," ujar Laode.

Baca Juga: Pasar Parfum RI Kian Harum, Alfa Indo Global Perkuat Bisnis B2B

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×